Selamat menikmati informasi dari INFO PLUS

Sabtu, 25 September 2010

Ganti Brain Memory dengan Muscle Memory


Sistem pendidikan di Indonesia yang mengutamakan brain memory menyebabkan anak-anak Indonesia hanya mahir di bidang teori, namun tidak pada praktek. Padahal metode tersebut salah. Metode pendidikan yang tepat ialah muscle memory di mana anak-anak diajak menyeimbangkan antara teori dan praktek. Namun untuk mencapai kesusksesan metode tersebut harus dimulai dari perubahan kultur kelas.
Muscle memory sendiri didapat karena orang tersebut terlibat latihan dan bukan hanya sekadar menghafal.



Menurut Prof Rhenald Kasali, Ph.D, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) di sela acara Education Fair SMA Kanisius, Jakarta, Kamis (23/9/2010), kebanyakan sekolah hanya menerapkan brain memory. Yaitu hanya sebatas teori, menghafal rumus, mengetahui formula atau rumus, dan bukan menjalankan rumus atau menguji sendiri di lapangan.

"Sementara rumus hanya berhenti sampai di laboratorium. Kalau muscle memory, itu ingatan yang berada di otot. Muscle memory sendiri didapat karena orang tersebut terlibat latihan dan bukan hanya sekedar menghafal," kata Rhenald.

Rhenald mencontohkan Jepang, dimana metode pembelajarannya menggunakan origami, sehingga ketika mereka dewasa dampaknya engineering mereka bagus. "Mereka bisa bikin otomotif, mekanisasi bagus sekali karena mereka terlatih untuk bergerak. Sementara di Indonesia tidak," katanya.

Sementara anak Indonesia kurang motorik. "Jadi kalau di kelas anak-anaknya hanya diam saja. Sementara negara yang mengutamakan muscle memory tadi mengharuskan muridnya aktif bicara, angkat tangan, ngomong, sifatnya interaktif di kelas," kata Rhenald.

Apabila proses belajar brain memory terus dilanjutkan maka akan berakibat buruk pada generasi mendatang, "Salah satu contoh nyatanya ialah mencari petani di Indonesia itu susah. Karena menjadi petani itu bukan teori pertanian, Sistem Penjamin Mutu Akademik (SPMA) yang awalnya di Departemen Pertanian sekarang di bawah Departemen Pendidikan Nasional. Metode belajarnya menjadi brain memory padahal harusnya muscle memory.

"Dampak lainnya adalah pembatik di Indonesia, membatik jarang dan susah sekali karena di sekolah tidak mengajarkan langsung orang membatik pakai canting. Akibatnya banyak orang ingin buat usaha batik namun tidak bisa karena tangannya tidak aktif, tidak terbiasa," paparnya.

Untuk itu, lanjut Rhenald, kultur belajar di kelas harus berubah. "Biasanya guru bicara, murid pasif. Sekarang diubah murid juga harus aktif. Budaya kita kan budaya lecture, seperti ngasih kuliah terus murid mencatat. Guru itu harusnya memberi pertanyaan bukan memberi kuliah. Kultur itu harus diubah, guru harus bertanya, murid mencari jawabnya sendiri di rumah," katanya.

Selain itu dalam tiap mata pelajaran harus memperbanyak bobot latihan, "Dalam setiap mata pelajaran harus ada motoriknya. Motoriknya itu latihan, turun ke lapangan, bergerak. Pengajar jangan memberi porsi teori yang terlalu besar," tambah Rhenald.
(sumber: KOMPAS.com)

Mau Baca Yang Lain?



0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar Anda

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design