Selamat menikmati informasi dari INFO PLUS

Sabtu, 12 Juni 2010

Perangkai Lampu Hemat Energi Belajar Dari Tempat Sampah


Pamekasan (beritajatim.com) - Memasuki rumah Busa’i (42) yang terletak di Jalan Kabupaten Gg I No. 6 Kecamatan kota Pamekasan, sudah sangat jelas menggambarkan bahwa seseorang dengan istri bernama Mufarrohah (35) ini mampu dan pandai dalam merakit barang bekas menjadi barang yang jauh lebih berharga dan bermanfaat untuk kehidupan masyarakat.


Rumah sederhana dengan ukuran 4x6 meter ini sesak dengan barang-barang elektronik. Mulai, dari ruang tamu hingga isi dalam rumah semuanya berisi alat-alat elektronik. Kabel-kabel terlihat berserakan dan tidak satupun yang tertata rapi. Bahkan, empat buah kursi sebagai tempat duduk tamu juga dipenuhi dengan alat elektronik. Hanya ada satu unit TV yang memang terpajang di belakang rumahnya.

Maklum, sejak tahun 1991, Busa’i mengaku tidak bisa jauh dengan barang yang diakuinya didapatkan dari pembuangan alias tempat sampah. Tentu saja, tidak hanya alat-alat elektronik bekas yang diperoleh, ternyata ilmu yang didapat merakit lampu hemat energi berasal dari tempat sampah. “Saya banyak mendapatkan ilmu dari tempat sampah,” katanya.

Memang, sudah sejak lama lampu pijar dipakai orang, menggantikan obor, pelita, dan penerangan dengan gas. Ketika dunia semakin benderang, pikiran pun bertambah cerah. Lampu alternatif dicari dan diselidiki, dan kemudian muncul lampu hemat energi, yang sekarang berangsur banyak digunakan.

Pria dua anak ini mengaku, sebelum bisa merangkai lampu hemat energi, ia memang punya cita-cita nyeleneh, yakni punya kemampuan yang tidak dimiliki orang lain. Dalam hatinya, ia selalu menanamkan ‘harus bisa berbeda dengan orang lain’. Busa’i pun terus memikirkan, apa yang ia bisa lakukan dan diberikan kepada masyarakat. Lagi-lagi, harus berbeda dari yang lainnya.

“Saat itu, saya memanfaatkan tempat sampah. Di sana, ternyata banyak alat-alat bekas elektronik yang telah terbuang. Ada tape, besi, alumunium, radio, lampu dan sebagainya. Saat itu saya masih bingung, apa yang harus saya perbuat dengan barang bekas ini,” ungkap pria lulusan SMA PGRI Pamekasan ini.

Mulanya, ia memilah-milah beberapa barang elektronik yang diperoleh dari tempat sampah. Tape, radio dan sejenisnya ia kesampingkan hingga akhirnya memilih lampu untuk bisa dikembangkan untuk menjadi sesuatu yang berguna untuk kepentingan masyarakat banyak.

“Setelah saya fokus pada lampu. Saya mulai mempelajari komponen yang ada di dalam lampu itu sendiri. Namun sayang, komponen elektronik dari lampu itu sendiri sangat sulit didapatkan di tempat sampah yang ada di Madura apalagi di Pamekasan,” tandasnya.

Kenyataan itu, hampir membuat Busa’i putus asa. Namun, kenyataan mendapatkan beberapa komponen yang dibutuhkan dalam meracik lampu agar bisa hemat tidak membuat patah arang. Ia akhirnya pergi ke Surabaya hanya sekadar mencari tempat pembuangan akhir yang banyak terdapat bahan elektronik, utamanya lampu.

“Saya akhirnya menemukannya di Keputih, dekat ITS Surabaya. Di sana, saya harus bekerja sama dengan para pemulung agar beberapa alat yang ada di rangkaian lampu bisa diberikan,” terangnya.

Setelah dipelajari, akhirnya Busa’i mampu membuat dan meracik lampu hemat energi. Contohnya, lampu yang biasanya punya 40 watt, ia sulap menjadi lebih hemat hanya 10 watt. Sementara, untuk lampu yang dari pabrikan punya 10, 15 dan 20 watt, ia sulap menjadi 5 watt. Fantastis memang.

Diakui Busa’i, perbedaan lampu yang dijual pabrikan dengan lampu yang dirangkainya terletak pada faktor pendingin. Bahkan, ia secara tegas, berani untuk hanya sekadar membandingkan lampu hasil pabrikan dan hasil rangkaiannya. “Lampu dari rangkaian saya mampu menahan panas Mas. Jadi panas tersebut sudah diserap oleh pendingin,” ujarnya.

Bahkan, takut tidak dipercaya. Ia beberapa kali memperlihatkan rangkaian lampu yang dibuatnya. Selain menyala dengan terang, rangkaian lampu tersebut memang menghemat energi sekitar 10 watt. Setelah itu, ia mulai membuka dan menerangkan rangkaian yang ada di dalam lampu. Tidak jauh berbeda dengan rangkaian lampu buatan pabrikan. Hanya saja, rangkaian lampu yang diberi nama SAI ini terdapat lempengan pendingin yang terbuat dari plat nomer sepeda di potong kecil berbentuk kotak sebagai pendingin, Spol yang digunakan untuk menaikkan dan menurunkan watt lampu, resistor dan Elco.

Jerih payah Busa’i atas rangkaian lampu SAI itu, akhirnya memberikan hasil yang menggiurkan. Pada tahun 1993 hingga 1997 misalnya, dengan racikan SAI nya itu, ia mampu menghasilkan pendapatan Rp 4-5 juta/hari. Dengan pelanggan mencakup wilayah Surabaya, Malang, Madura, Yogyakarta Banyuwangi dan Probolinggo. Rumah yang ia miliki pun, diperoleh dari hasil jerih payahnya memasarkan lampu hemat energi.

Namun, sejak krisis moneter melanda Indonesia, kini Busa’i hanya mampu mendapatkan penghasilan bersih Rp 1,5 juta/bulan, dengan 50 rangkaian lampu per bulan yang ia jual ke beberapa pelanggannya. “Satu rangkaian lampu saya jual Rp 11 ribu. Kalau mau dipasang ya Rp 12 ribu. Kini, pelanggan sendiri yang datang ke sini (rumah) untuk mendapatkan lampu hemat energi,” jelasnya.

Saat ini, dia hanya bisa berharap adanya bantuan pemerintah dan pengusaha untuk mengembangkan hasil karyanya. Sebab, ia mulai kesulitan untuk mencari komponen rangkaian lampu yang akan dibuatnya.[san/eda]

Mau Baca Yang Lain?



3 komentar:

lampu hemat energi mengatakan...

hebat kreartif banget

L mengatakan...

TERUS lakukan inovasinya pak.....ciptakan lampu hemat energi

BOY mengatakan...

MANTAP BUNG!

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar Anda

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design