Selamat menikmati informasi dari INFO PLUS

Rabu, 10 Maret 2010

Siapakah Dulmatin?

DULMATIN yang bernama asli Joko Pitono. Ia memiliki banyak nama samaran seperti Amar Usmanan, Joko Pitoyo, Abdul Matin, Pitono, Muktarmar, Djoko, dan Noval. Dia lahir di Desa Petarukan, Pemalang, 6 Juni 1970.
Dia dikenal luas sebagai anggota senior dari kelompok militan Jamaah Islamiyah (JI), dan menjadi buron polisi Indonesia maupun Amerika Serikat (AS). AS bahkan menawarkan sepuluh juta dolar AS untuk siapa pun yang mengetahui keberadaan Dulmatin. Itu mengindikasikan betapa berpengaruhnya gembong teroris yang juga dicari pemerintah Filipina itu.



Mulai Terlibat Terorisme
Dulmatin awalnya bekerja sebagai tukang jual mobil, namun tidak ada yang mengetahui sejak kapan dia terlibat dalam jaringan teroris. Dulmatin adalah sedikit di antara anggota militan yang mampu merakit dan meledakan bom klorat dan nitrat. Dulmatin juga diketahui mengikuti pelatihan militer di kamp Afghanistan.
Dulmatin dikenal berada di balik serangan bom Bali I. Ketika itu 202 orang dinyatakan meninggal dunia, kebanyakan adalah wisatawan mancanegara. Ia juga dipercaya telah memasang salah satu bom yang dihubungkan dengan telepon seluler dengan para pengebom bunuh diri di Bali. Bersama Dr. Azahari, dia juga merakit bom mobil yang digunakan dalam serangan itu.
Sejak 2003, Dulmatin dipercaya bermarkas di Filipina Selatan membantu melatih anggota militan lain di kamp rahasia. Pada Februari 2009, militer Filipina mengonfirmasikan bahwa Dulmatin tidak terbunuh pada kontak senjata tahun 2007.
Militer Filipina menyatakan Dulmatin bersembunyi di hutan belantara di kawasan selatan negara itu.
Pada 2005 dia dikira terbunuh dalam serangan udara oleh angkatan udara Filipina, tetapi ternyata pemerintah Manila mengakui salah. Setahun kemudian, pada Januari 2007 tentara Filipina meyakini Dulmatin terluka akibat kontak senjata dengan militer ketika bentrok dengan kelompok Abu Sayyaf.

Ahli Merakit Bom

Sebutan genius itu bukan tanpa alasan. Pria asal Jalan Pemali, Kabupaten Pemalang, ini pernah mendapat latihan di Afganistan pada 1990-2001 dan karena kepandaiannya, ia mendapat ilmu khusus dari Azahari Husin sebagai ahli pembuat bom dan bidang elektronik. Kemampuan merangkai peledak itu membuat ia disebut-sebut berada di balik bom Bali tahun 2002 yang menewaskan 202 orang. Saat bergabung dengan Azahari, Dulmatin disebut sering membantu merakit bom mobil dan rompi peledak.

Dulmatin diyakini pernah bergabung dengan kelompok Abu Sayyaf di Filipina sejak 2003 dan di sana ia mengajari pembuatan peledak. Saat bergabung dengan kelompok tersebut, ia dikabarkan terluka dalam pertempuran dengan tentara pemerintah di Pulau Jolo, Januari 2007. Pada Mei 2007, Dulmatin berhasil lolos dari sergapan di Pulau Simunul, beberapa saat sebelum tentara dan polisi Filipina mengepung lokasi persembunyiannya. Mereka hanya menemukan empat anak yang diduga sebagai anak Dulmatin.

Karena dianggap orang yang berbahaya, Pemerintah Amerika Serikat menawarkan hadiah 10 juta dollar AS bagi mereka yang memberikan informasi mengenai keberadaan Dulmatin.

(pusat data/dari berbagai sumber)

Mau Baca Yang Lain?



0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar Anda

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design