Selamat menikmati informasi dari INFO PLUS

Selasa, 29 September 2009

Vaksin Virus AIDS Akhirnya Ditemukan

BANGKOK, KOMPAS.com — Untuk pertama kalinya di dunia, uji coba vaksin untuk mencegah penularan virus AIDS akhirnya memberikan hasil yang menggembirakan. Sebelumnya, setelah sejumlah kegagalan uji coba, para ahli berpikir vaksin HIV adalah hal yang mustahil.

Dalam uji coba vaksin terbesar di dunia yang dilakukan terhadap 16.000 sukarelawan di Thailand, didapatkan hasil 31 persen relawan tidak tertular HIV. Meski hasilnya masih relatif kecil, para ahli berpendapat bukti ini sudah cukup memberi harapan bahwa kita bisa memiliki vaksin yang efektif dan aman untuk mencegah penyakit mematikan tersebut.



Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular, Dr Anthony Fauci, mengingatkan bahwa hasil riset ini bukanlah "akhir dari perjalanan". Namun, ia mengatakan cukup terkejut dan sangat gembira dengan hasil studi tersebut.

"Ini membuat kita makin optimis untuk mengembangkan penelitian dan menciptakan vaksin AIDS yang lebih efektif. Saya yakin kita bisa melakukannya," kata Fauci.

Menurut badan dunia tentang AIDS, UNAIDS, diperkirakan 7.500 orang setiap hari terinfeksi HIV dan lebih dari dua juta orang meninggal akibat AIDS pada tahun 2007.
"Hasil riset ini adalah tonggak yang bersejarah," kata Mitchell Warren, Direktur Eksekutif AIDS Vaccine Advocacy Coalition, grup internasional yang bekerja sama untuk membuat vaksin. "Memang butuh waktu untuk menganalisis dan memahami data riset ini, tetapi hasil ini akan memberi energi baru dalam bidang vaksin AIDS," katanya.

Studi yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Thailand tersebut menggunakan strain virus HIV yang biasa ditemui di Thailand. Karena itu sejumlah ahli meragukan apakah vaksin itu juga bekerja efektif untuk strain virus yang beredar di Amerika, Afrika, atau benua lain di dunia.

Studi tersebut menguji coba dua vaksin combo untuk meningkatkan kerja vaksin. Yang pertama ditujukan untuk menguatkan sistem imun agar bisa menyerang HIV dan vaksin kedua untuk menguatkan respons.

Vaksin yang dipakai adalah ALVAC dari Sanofi Pasteur, sebuah divisi vaksin dari industri farmasi Sanofi-Aventis, dan AIDSVAX, yang dibuat oleh VaxGen Inc, sebuah lembaga nonprofit yang dikelola oleh Global Solution untuk penyakit menular.

ALVAC menggunakan canarypox, virus burung yang sudah dimodifikasi dan tidak bisa menyebabkan penyakit pada manusia untuk membawa tiga gen HIV masuk ke dalam tubuh. Sedangkan AIDSVAX mengandung versi genetik protein dari permukaan HIV. Vaksin tersebut tidak dibuat dari seluruh bagian virus, hidup atau mati, dan tidak bisa menyebabkan HIV.

Saat masing-masing vaksin diuji coba sendiri pada percobaan awal di tahun 2003, tak satu pun vaksin yang mampu mencegah penularan HIV. Para ahli pun berpendapat uji coba tersebut sia-sia. Tetapi, kombinasi dari kedua vaksin tersebut ternyata memberi hasil yang menjanjikan karena keduanya bersifat menguatkan.

Percobaan vaksin itu dilakukan pada pria dan wanita Thailand yang belum terinfeksi HIV, berusia 18-30 tahun tetapi berisiko terinfeksi. Separuh relawan menerima dosis dasar ALVAC dan dua dosis AIDSVAX selama enam bulan. Sisanya menerima injeksi dummy.

Seluruh relawan juga diberikan kondom, konseling, dan pengobatan untuk setiap penularan penyakit seksual. Mereka juga dites HIV setiap enam bulan. Setiap relawan yang terinfeksi diberikan obat antiviral secara cuma-cuma selama penelitian yang berlangsung 3 tahun itu.

Hasil riset tersebut adalah 51 orang terinfeksi dari kelompok 8.197 orang yang menerima vaksin, dan 74 orang dari 8.198 orang yang menerima injeksi dummy. Hal ini berarti risiko penularan HIV lebih rendah 31 persen pada orang yang menerima vaksin.

Mau Baca Yang Lain?



0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar Anda

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design