Selamat menikmati informasi dari INFO PLUS

Selasa, 29 September 2009

Terapi Sel Punca (Stem Cell)

Istilah sel punca pertama kali diusulkan oleh histolog Rusia, Alexander Maksimov, pada tahun 1908. Ia menyebutkan bahwa ada satu macam sel induk yang akan berkembang menjadi berbagai jenis sel darah, seperti menjadi sel darah merah, sel darah putih, dll. Teori ini baru terbukti sekitar 70 tahun kemudian ketika sel induk (sel punca, stem cell) tersebut ditemukan dalam sumsum tulang belakang manusia.

Ciri-Ciri Sel Punca

Sel punca mempunyai ciri yang sangat berbeda dibandingkan dengan sel tubuh lainnya. Ciri pertama adalah, sel yang belum terspesialisasi ini dapat memperbaharui dirinya secara terus- menerus melalui proses pembelahan. Ciri yang kedua, dalam kondisi tertentu sel ini dapat berubah menjadi jaringan atau organ spesifik dengan fungsi yang spesifik pula. Karena kedua ciri utama itulah, sel punca diyakini berpotensi untuk meregenerasi jaringan atau organ tubuh manusia yang rusak, tentunya dengan suatu teknik tertentu.



Pada organ-organ seperti usus dan sumsum tulang belakang, sel punca akan membelah secara reguler dan mengganti jaringan yang rusak atau mati. Pada organ lain seperti pankreas dan hati, sel punca hanya membelah dalam situasi tertentu. Adapun pada organ seperti tulang, serabut saraf, otot jantung, dll, sel punca tidak memperlihatkan pembelahan yang signifikan.


Pada awalnya, sumber sel punca adalah embrio manusia. Karena itulah banyak kalangan yang menentang penelitian-penelitian sel punca. Untungnya, pada tahun 2007, dua orang ilmuwan Jepang, Shinya Yamanaka dan Kazutoshi Takahasi berhasil membuat sel punca hasil reprogram sel kulit manusia. Selain itu, para peneliti di AS juga berhasil mendapatkan sumber sel punca baru yaitu cairan ketuban dan tali pusar, dan ari-ari.

Perkembangan Penelitian Sel Punca di Indonesia

Pada simposium bertajuk "Pengembangan Sel Punca (Stem Cell)" di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia beberapa waktu yang lalu, Ketua Unit Pelayanan Terpadu Sel Punca Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Profesor Dr dr Samsuridjal Djauzi SpPD-KAI mengatakan dalam waktu dekat terapi sel punca akan menjadi unit khusus di RSCM. "Kami merencanakan pada 2013 penelitian sel punca akan jadi salah satu kegiatan utama FKUI," ujarnya usai simposium. (tempointekatif.com).

Di Indonesia, penelitian mengenai terapi sel punca sudah mengalami bayak kemajuan. Di divisi Orthopaedi dan Traumatologi FKUI RSCM misalnya, telah melakukan penelitian terapi sel punca untuk mengobati kerusakan tulang rawan. Pada penelitian ini, sel punca diambil dari tubuh pasien sendiri yaitu dari tulang panggul. Kemudian sel punca tersebut dikembangbiakkan di laboratorium selama empat minggu hingga jumlahnya berlipat-lipat, sampai 10 juta. Lutut yang mengalami kerusakan tulang rawan kemudian dibersihkan melalui operasi. Bagian-bagian yang rusak dibuang (debridement). Setelah itu, sel punca hasil biakan ditanam pada daerah yang telah dibuang dan luka operasi dijahit. Beberapa waktu kemudian diharapkan akan tumbuh tulang rawan baru menggantikan tulang rawan yang telah rusak dan keluhan nyeri lutut pasien berkurang atau hilang.

Menurut menurut Kepala Divisi Orthopaedi dan Traumatologi FKUI-RSCM, Dr dr Andri Lubis, SpOT, seperti ditulis di tempointeraktif, menyatakan bahwa aplikasi sel punca ini masih dalam bentuk penelitian walau sudah ada sistem terapannya. Artinya, meski sudah diterapkan kepada manusia, masih dalam koridor penelitian. Dari bidang ortopedi Indonesia, sampai kini belum pernah ada yang sampai diaplikasikan kepada pasien. Namun, dokter berkulit putih ini telah merintis terapi sel punca kepada pasien dengan cedera tulang rawan.

Para spesialis ortopedi di Negeri Singa sudah banyak menerapkan terapi itu kepada pasien, khususnya untuk kerusakan tulang rawan. Pasien yang terindikasi di sana berusia 15-55 tahun. Mengenai harga, Andri mengaku sulit menentukannya. "Di luar negeri, biaya kultur laboratorium saja mencapai lebih dari Rp 50 juta. Itu belum biaya operasi dan rehabilitasinya."Berikutnya, aplikasi klinis terapi sel punca ini akan diterapkan untuk pasien diabetes, khususnya diabetes iskemik. Spesialis penyakit dalam FKUI, Dr Dante Saksono, SpPD Phd, mengatakan 29 persen dari 409 pasien yang dirawat di RSCM karena infeksi harus menjalani amputasi, bahkan ada beberapa orang sampai meregang nyawa. Dalam penerapan sel punca, akan dilakukan stimulus neovaskularisasi. Seperti diketahui, pasien diabetes kerap mengalami komplikasi pembuluh darah yang terakumulasi dari faktor inflamasi, atau penyebab lain, yang menyebabkan pembuluh darah bermasalah.

Dalam studi, sel punca disematkan oleh Dante kepada hewan percobaan yang disimulasi mengalami hipoksia (kondisi sindrom kekurangan oksigen pada jaringan tubuh). Saat terjadi kekurangan oksigen pada jaringan, suntikan sel punca diindikasikan memicu sumsum tulang mengeluarkan endothelial progenitor cell ke lokasi iskemia dan membentuk vaskularisasi baru. Dari situ Dante mendapati bahwa terjadi pertumbuhan neovaskularusasi setelah 16-42 pekan.

Lebih lanjut, sel punca yang dikultur dari jaringan itu mengganti sel-sel beta pankreas yang telah rusak. Menurut Dante, bila negeri ini mampu memiliki sumber sel beta pankreas yang teridentifikasi optimal--seperti sel beta pankreas normal--terapi transplantasi sel adalah terobosan yang menjanjikan. "Sel-sel itu yang nantinya akan memproduksi insulin." Namun, kendalanya, sel beta pankreas merupakan sel fungsional, yang perkembangannya dari sel punca mengalami berbagai macam fase. "Hal itu karena ada stimulasi dalam perjalanannya dari faktor transmisi protein sel-sel tersebut."

Keberhasilan penerapannya secara klinis, berdasarkan studi di Cina dan Jepang, bisa dilihat dari kualitas pembuluh darah serta kualitas hidup pasien. Meski menjanjikan, sel punca untuk pembuluh darah kaki pasien diabetes masih sangat mahal walau tidak semahal jantung. Pakar kardiologi FKUI-RSCM, Profesor Dr dr Teguh Santoso, SpPD-KKV, mengklaim sel punca untuk jantung di Indonesia berkembang dengan sangat baik. Teguh menjelaskan, Singapura masih nol dalam penerapan sel punca untuk jantung, begitu juga Malaysia dan Thailand.

Di negeri ini, kata dia, ada alat bernama NOGA, yakni sistem anyar pemberian sel punca pada jantung. Lewat sistem ini, dokter sanggup memetakan dengan tepat ke area jantung yang butuh terapi sel punca. Karena itu, kateter dapat diarahkan secara tepat untuk menyuntik ke titik lokasi target. "Alat ini cuma ada 60 buah di dunia. Di Asia-Pasifik cuma ada tiga, yakni di Indonesia, Hong Kong, dan Australia. Singapura mau membeli tapi tidak dikasih, karena harus ada "diplomanya" untuk menerapkan," ujarnya.

Namun, dari aplikasi sel punca di atas, masyarakat hendaknya tidak berharap berlebihan. Terapi sel punca juga terapi lain tidak otomatis bebas dari beberapa risiko. Pasien hendaknya tak tergiur terapi sel punca yang belum jelas keamanan serta belum terbukti manfaatnya, aplikasi sel punca ini masih dalam bentuk penelitian walau sudah ada sistem terapannya. Artinya, meski sudah diterapkan kepada manusia, masih dalam koridor penelitian. Dari bidang ortopedi Indonesia, sampai kini belum pernah ada yang sampai diaplikasikan kepada pasien. Namun, dokter berkulit putih ini telah merintis terapi sel punca kepada pasien dengan cedera tulang rawan.Namun, dari aplikasi sel punca di atas, masyarakat hendaknya tidak berharap berlebihan. Terapi sel punca juga terapi lain tidak otomatis bebas dari beberapa risiko. Pasien hendaknya tak tergiur terapi sel punca yang belum jelas keamanan serta belum terbukti manfaatnya.


Mau Baca Yang Lain?



0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar Anda

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design