Selamat menikmati informasi dari INFO PLUS

Rabu, 16 September 2009

Noni Terbukti Bikin Langsing

Oleh trubusid_admindb
Sebersit gundah diam-diam mampir di hati Dra. Eti Herawati, M.Sc. pascakelahiran Adisti Putri Utami. Bukan, bukan karena Sindroma Baby Blue setelah melahirkan putri ke-2 yang dinanti selama 9 tahun. Eti resah karena bobot badannya tak kunjung turun. Badannya melar menjadi 59 kg dari semula 45 kg. Dengan tinggi 155 cm penampilan perempuan 46 tahun itu menjadi jauh dari langsing.

Buat Eti kondisi itu sungguh mengganggu. Paling tidak, 'Harus punya stok pakaian baru. Itu pun terkadang sulit dapat yang ukurannya pas,' ujar ibu 3 anak itu. Kelahiran Sukabumi 6 Oktober 1963 itu lantas bertindak. Setiap hari selama 15 menit Eti lari pagi di lingkungan kompleks tempat tinggalnya di Bumi Kelapadua, Tangerang, Provinsi Banten. Selain itu ia ikut senam jantung sehat 2 kali sepekan: Kamis dan Ahad. Apa daya, bobot tubuh cuma turun sekilo selama 3 bulan.



Ia tahu supaya penurunan bobot tubuh signifikan, olahraga mesti dikombinasikan dengan perlakuan lain. Diet karbohidrat dan lemak, akupuntur, serta minum ramuan herbal atau obat-obatan medis dan suplemen di antaranya. Jika ingin instan-tapi mahal-pakai cara pembedahan, sedot lemak, atau body wrapping. Eti kepingin mencoba ramuan herbal yang didapatnya dari sebuah literatur: paduan mengkudu, daun kemuning, dan rimpang temugiring.

Menurut Maria Margaretha Andjarwati, herbalis di Kelapagading, Jakarta Utara, mengkudu memang lazim digunakan sebagai pelangsing. Andjarwati biasanya meresepkan dengan kombinasi jati belanda. Dosisnya 2 kapsul mengkudu sebanyak 3 kali sehari ditambah 2 gelas teh jati belanda setiap pagi dan sore. 'Tapi karena belum ada kajian ilmiah yang membuktikan khasiatnya jadi saya belum coba,' kata Eti.

Sebulan Rp1,5-juta

Lektor kepala di Universitas Negeri Jakarta itu lantas membawa informasi yang didapat dari literatur itu pada dosen pembimbing saat mengajukan proposal penelitian untuk program pascasarjana Ilmu Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga di Institut Pertanian Bogor pada 2002. Ia mafhum benar kegemukan jadi masalah buat banyak orang. Dan terapi menuju langsing itu mahal: secara harfiah-rupiah yang dikeluarkan-maupun kiasan: waktu dan kesabaran menjalani terapi.

Ini sekadar ilustrasi. Andai seorang penderita obesitas memilih jalan menuju langsing dengan cara berkonsultasi pada dokter spesialis. Maka pada pertemuan pertama saja ia mesti siap-siap mengeluarkan setidaknya Rp1-juta untuk menjalani sebuah tes serta biaya obat-obatan dan suplemen pendukung-misal susu yang membuat pasien kenyang tanpa mesti banyak makan. Body composition analysis memeriksa kadar lemak, otot, dan bobot penderita. Dari situ dokter memutuskan obat-obatan dan cara terbaik atasi obesitas.

Seminggu pascakedatangan pertama, pasien melakukan kontrol. Kali ini kocek yang dirogoh tidak terlalu dalam, 'hanya' sekitar Rp750.000 untuk menebus obat-obatan dan suplemen. Kontrol per minggu berulang hingga total 1 bulan. Kontrol berikutnya cukup 2 minggu sekali dengan biaya Rp750.000 sekali datang atau Rp1,5-juta per bulan.

Pasien mesti mengimbangi asupan obat dan suplemen dengan olahraga yang membakar lemak. Misal berenang atau mengayuh sepeda statis.

Sebuah sepeda statis harganya sekitar Rp5-juta. Hasilnya memang sebanding: 3 bulan menjalani terapi penurunan bobot signifikan: 10-15 kg. Pasien bisa juga memilih jalan lain yang jauh lebih cepat, tapi biaya yang dikeluarkan pasti lebih mahal lagi. Makanya herbal menjadi sebuah alternatif.

Penghancur lemak

Dalam penelitiannya, Eti meminta bantuan tikus putih betina strain wistar. Jumlahnya 25 ekor yang pascaperlakuan penggemukan bobotnya menjadi 292-298 g per ekor. Atau 20% lebih berat daripada bobot ideal. Itu kurang lebih menggambarkan obesitas seperti yang didefinisikan oleh V Hegarti dalam Nutrition, Food, and Environment, dari Michigan State University, Amerika Serikat.

Tikus-tikus itu dikelompokkan dalam 5 grup. Kelompok pertama tanpa perlakuan-kelompok kontrol. Kelompok 2 diberi ramuan mengkudu Morinda citrifolia, daun kemuning Murraya paniculata, dan temugiring Curcuma heyneana. Sementara kelompok 3, 4, dan 5 masing-masing mendapat asupan ekstrak mengkudu, ekstrak daun kemuning, dan ekstrak rimpang temugiring.

Dosis pemberian 1,5 ml per ekor sekali sehari sebelum makan. Tujuannya supaya pengaruh ramuan lebih efektif. Seminggu sekali selama 5 minggu, bobot tikus ditimbang. Data pada akhir penelitian menunjukkan, semua perlakuan efektif menurunkan bobot tubuh. Penurunan bobot paling signifikan terjadi pada kelompok yang meminum ramuan kombinasi mengkudu, daun kemuning, dan temugiring. Kelompok dengan perlakuan ekstrak mengkudu di tempat ke-2. Lalu diikuti kelompok dengan asupan ekstrak temugiring dan daun kemuning.

'Mengkudu, daun kemuning, dan rimpang temugiring mampu menurunkan bobot badan karena mengandung senyawa-senyawa yang bisa menghancurkan lemak tubuh, mengurangi nafsu makan, dan memberikan efek diuretik,' tutur Dra Emma S Wirakusumah, MSc, ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor.

Buah noni kaya asam kapril dan xeronine. Asam kapril mencegah pembentukan low density lipoprotein (LDL) alias lemak jahat yang paling banyak mengangkut kolesterol ke dalam darah. Kadar LDL tinggi menyebabkan penumpukan lemak di arteri. Jika pembentukan LDL terhambat artinya penumpukan kolesterol terhindari bahkan jumlahnya menurun. Asam kapril juga ada pada daun kemuning.

Selain itu kerabat jeruk itu juga mengandung damar yang berkhasiat tonis. Maksudnya merangsang tubuh berfungsi lebih efektif. Ketika metabolisme tubuh baik, makanan dicerna menjadi tenaga langsung lebih lancar. Artinya tidak banyak lagi yang tersisa sebagai timbunan lemak sehingga tubuh jadi lebih langsing. Sementara pada temugiring terdapat tanin. Di dalam tubuh, tanin mengikat mineral dan mengganggu proses penyerapan Ca, Fe, dan Zn. Gangguan itu menyebabkan zat makanan tidak terpakai dalam proses pencernaan terbuang.

Aman

Menurut Emma efek mengurangi nafsu makan sangat berperan dalam mengontrol asupan makanan ke tubuh. 'Prinsip utama penurunan bobot badan adalah mengurangi pasokan energi dan meningkatkan pengeluaran energi dalam tubuh,' kata master dari Centre Michigan University, Amerika Serikat, itu. Ketika pasokan energi dari luar berkurang, tubuh mengambilnya dari cadangan lemak.

Hasil riset Eti juga menunjukkan konsumsi mengkudu, daun kemuning, dan temugiring dalam jangka panjang aman. Untuk pasien penderita obesitas, ketua program studi tatarias Universitas Negeri Jakarta itu menyarankan konsumsi ramuan itu 2 kali sehari sebelum makan. Caranya blender 50 g buah mengkudu mengkal, 25 g daun kemuning, dan 25 g rimpang temugiring dengan 100 g air matang. Air perasannya itulah yang diminum. 'Jangan lupa olahraga dan jangan makan di atas pukul 5 sore,' imbuh Eti. Ramuan terus diminum hingga bobot badan mencapai kondisi ideal. Setelah terbukti ampuh bikin langsing, saatnya kini mencoba ramuan mengkudu, daun kemuning, dan temugiring. (Evy Syariefa/Peliput: Ari Chaidir).

Bagaimana agar Mengkudu enak di lidah? . . baca di sini.

Sumber: http://www.trubus-online.co.id

Mau Baca Yang Lain?



0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar Anda

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design