Selamat menikmati informasi dari INFO PLUS

Senin, 07 September 2009

Ilmuwan AS gugah ajukan ilmuwan Ilmu Kimia dari zaman Keemasan Islam masa silam.

Dalam ajang pertemuan ilmiah National Meeting of the American Chemical Society tgl 16 - 20 Aug ilmuwan AS ahli ilmu Kimia Benjamin Huddle, Ph.D mencetuskan peryataan yang menggugah, bahwa kalangan ilmuwan sedunia sepatutnya dapat lebih mengapresiasi serta mengenal sejumlah nama ilmuwan Islam yang berkarya dan berjasa pada masa keemasan Kebudayaan Islam ---abad 8 hingga abad ke 13--- yang berpusat di Baghdad yang disebut laksana “The Palace of the Knowledge” dan menjadi pusat sains dan ilmu kedokteran dunia terdepan pada zamannya.


Disebutkan beberapa nama ilmuwan ahli Ilmu Kimia a.l: Muhammad ibnu Zakariya al-Razi (gambar kiri), Jabir ibnu Hayyan (gambar tengah) maupun Abu Jusuf Yaqub ibnu Ishaq al-Kindi (gambar kanan) yang sepantasnya dihargai setaraf dengan nama-nama ilmuwan terpandang ahli Ilmu Kimia dunia Barat dari masa silam seperti: Antoine Lavoisier, John Dalton, Amadeo Avogadro ataupun Louis Pasteur dll selaku ilmuwan yang meletakkan fondasi penting untuk perkembangan ilmu kimia dan kedokteran modern hingga masa kini.
Institusi ACS : American Chemical Society adalah suatu institusi ilmiah terkemuka dan salah satu yang terbesar di dunia dengan keanggotaan sejumlah 154.000 ilmuwan dengan pusat kegiatan berada di Washington DC, Amerika Serikat.

Cetusan pernyataan Huddle yang sepertinya menggugah oto-kritik disampaikan selepas usai kajian risetnya terhadap dunia sains seputar masa “Golden Age of Arabic-Islamic Science” yang didalamnya menyertakan kajian atas kehebatan khasanah Ilmu Kimia dalam masa keemasan Islam dalam kurun waktu tahun 750 s/d 1258. Terungkap bahwa bidang Ilmu Kimia yang dipraktekkan pada masa tersebut memuat temuan beragam istilah dari bahasa Arab, peralatan teknik/lab, zat kimia (khususnya cairan wewangian) karya cipta para Ilmuwan Islam ---baik bangsa Arab maupun bangsa lain yang menganut Agama Islam a.l: Persia, India, Mesir dan sejumlah bangsa di Afrika Utara---
Huddle berpendapat bahwa kemajuan sains dan temuan ilmuwan Islam tersebut dalam pandangan Dunia Barat hingga sekarang pada kenyataannya sebagian besar terlupakan sama sekali atau dipandang kurang penting dan bahkan dianggap ilmiah semu semata : pseudo-science.

Sesungguhnya cemerlangnya Sains pada masa keemasan perkembangan Islam tersebut sebagian diantaranya ada yang telah dihargai dengan sepantasnya seperti halnya tokoh-tokoh ahli bidang tertentu ---seperti nama Ibnu Sina (Avicenna : 980-1037) dan Omar Hajjam (1048-1131) untuk Ilmu Aljabar dan Astronomi--- Istilah Algebra dalam bahasa Inggris sendiri memang berasal dari kata Aljabar dalam Bahasa Arab. Ilmuwan Arab pada masa itu pada awalnya memang mengadopsi sistem bilangan dari kebudayaan Hindu India. Bangsa India seperti diketahui sebagai bangsa di dunia yang pertama kali menemukan sistem bilangan sepuluhan serta mendefinisikan konsepsi bilangan nol.
Dalam penyebaran agama Islam ke segenap penjuru benua di dunia ternyata berlainan dengan kebiasaan model penaklukan yang disertai tindakan penghancuran budaya negeri ditaklukkan, maka pada praktek penaklukan dalam budaya Islam lazimnya kebudayaan bermuatan Sains dan Ilmu Pengetahuan tidaklah dihancurkan namun justru disintesakan untuk dikembangkan dengan pengetahuan yang telah terlebih dahulu dikuasai Bangsa Arab.
Praktek bermuatan toleransi seperti demikian serta kecintaan dunia Islam dalam memelihara ilmu pengetahuan pada masa keemasan Dunia Islam tersebut dicirikan dengan tumbuh suburnya pusat pengkajian Ilmu Pengetahuan, kampus universitas bidang Sains dan Ilmu Kedokteran, serta catatan ilmiah yang lengkap ---termasuk didalamnya dokumentasi Ilmu Pengetahuan sejak dari Zaman Yunani Kuno yang diperoleh dari penaklukan Byzantium sebagai pusat kekuasaan Romawi di Timur daratan Eropa---
Dunia mengakui bahwa Abad Kegelapan diawali dengan pertanda keruntuhan Dinasti Kesultanan Islam di Bagdad yang musnah hancur lebur total ketika diserbu balatentara Bangsa Mongol (th 1258) hingga lenyap pula segala peninggalan budaya yang bernilai tinggi. Dan ketika Dunia Barat pada giliran berikutnya kemudian mulai memasuki Abad Keemasan Barat: “Golden Age of Renasissance” (pertengahan abad XV) maka sesungguhnya sebagian diantara perkembangan kebudayaan ini sesungguhnya adalah “pinjaman” bernilai kredit point yang tinggi dari peninggalan kemajuan peradaban dunia dari masa “Golden Age of Arabic-Islamic Science” guna dikembangkan lebih lanjut oleh kalangan bangsa-bangsa Barat di Eropa.

Mau Baca Yang Lain?



0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar Anda

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design