Selamat menikmati informasi dari INFO PLUS

Selasa, 04 Agustus 2009

Wisata Kuliner di Kota Solo (Bag-1)

Dari segi daerah pariwisata, boleh jadi Solo kurang dikenal. Tetapi, toh, orang yang datang mengunjungi kota Bengawan ini tidak sedikit jumlahnya. Sebagian datang untuk mencari batik, sebagian untuk berdagang dan sebagian lain untuk menikmati jajanannya yang aduhai lezatnya. Enaknya pula jenis makanan di kota ini luar biasa banyaknya. Hingga sering membuat kita lupa diri. Jangan kaget bila baru tinggal 3 hari saja di Solo, bobot tubuh Anda sudah naik 3 kilogram.



Di Solo hanya ada dua kategori makanan, yaitu 'Enak' dan 'Enak Tenan'. Di kota ini bukan masalah pedagang mencari pembeli, namun pembeli yang mencari pedagang. Yup, they are that good. So kendurkan ikat pinggang anda dan mulailah wisata kuliner anda di Kota Bengawan.

Berikut ini tempat-tempat makanan dan makanan-makanan yang harus anda coba ketika ke Solo. Anda dapat mengaksesnya melalui link yang ada di bawah atau menjelajahinya melalui link peta wisata kuliner ini.

1. Nasi Liwet
Nasi Liwet mungkin adalah makanan khas Kota Solo yang paling terkenal, yang ketenarannya telah menyebar ke segala penjuru, dan sudah masuk menjadi menu di hotel-hotel berbintang di kota-kota besar di Indonesia.

Di Solo sendiri Nasi Liwet sudah sangat membumi, hingga setiap saat dan hampir dimanapun, anda akan dapat menemukan Nasi Liwet dengan mudah. Mulai dari Nasi Liwet yang paling terkenal di Solo, Nasi Liwet Wongso Lemu yang berlokasi di Keprabon (Jalan Teuku Umar) dan Nasi Liwet Yu Sani yang berlokasi di kawasan Solo Baru yang berjualan di malam hari hingga para mBakyu yang berjualan di pagi hari dengan berkeliling diperumahan.

Pada dasarnya Nasi liwet adalah beras yang dimasak dengan santan dan kaldu ayam sehingga hasil akhirnya membuat nasi terasa gurih, beraroma dan lezat. Kemudian, nasi tersebut dicampur dengan sayuran jipang (labu siam) yang dimasak pedas, telur pindang rebus, daging ayam yang disuwir, kumut (terbuat dari kuah santan yang dikentalkan). Sering juga ditambah dengan usus ayam, hati/ampela yang direbus, bacem tahu tempe atau rambak kulit sapi sebagai pelengkap. Penyajiannya pun tidak menggunakan piring, tetapi dengan daun pisang yang dipincuk.

Uenak tenan!

2. Timlo Solo
Timlo, bukan Kimlo adalah salah satu makanan khas di Kota Solo. Berbeda dengan makanan sejenis yang dimiliki daerah lain, Timlo Solo tidak mempergunakan soun dan jamur merang.

Untuk menikmati rasa Timlo yang khas Solo, anda harus datang ke Timlo Sastro di daerah Balong Pasar Gede atau di cabangnya di Pasar m'Beling dan Timlo Solo di Jl. Urip Sumoharjo. Tempat ini benar-benar jagonya timlo. Timlo Solo adalah hidangan berkuah bening yang berisi 'sosis' daging ayam yang dipotong-potong, potongan telur pindang, hati dan ampela ayam.

Timlo Sastro mempunyai cara menghitung pesanan yang unik, pesanan tidak dicatat di atas kertas, melainkan ditulis di atas papan tulis kecil (Sabak) dan baru kemudian harganya dijumlah. Semangkuk Timlo komplit dapat dinikmati hanya dengan mengeluarkan uang Rp 9.000 ,-

Semangkuk Timlo panas, dimakan bersama nasi putih yang ditaburi bawang goreng dan ditemani segelas es jeruk pasti akan membuat anda ingin kembali berulang kali.

3. Sate Buntel
Sate Buntel adalah sate kambing khas Kota Solo yang lain dari pada yang lain, pokoknya one of a kind lah. Sate Buntel adalah sate yang terbuat dari daging kambing yang dicincang, diberi bumbu bawang dan merica dan kemudian di-buntel (dibungkus) dengan lemak kambing. Sate kambing saja sudah enak, apalagi kalau daging kambingnya dicincang dan dibungkus dengan lemak sebelum dibakar hingga matang di atas bara dan dimakan bersama saus kecap, irisan cabe rawit yang diuleg kasar, bawang merah, irisan kol dan tomat. Lebih nikmat lagi dinikmati bersama acar ketimun...Hm ... Mak Nyos!

Salah satu warung makan penyedia Sate Buntel yang paling terkenal dan paling most wanted di Solo adalah warung Sate Kambing Tambak Segaran, Jalan Sutan Syahrir No 39 (Widuran) yang telah berjualan sejak tahun 1948. Kesuksesan warung sate ini mendorong munculnya banyak warung sate buntel lainnya.

Jika anda penggemar wisata kuliner dan sedang memesan satu porsi sate buntel, perlu diketahui bahwa satu porsi sate buntel tidak berisi 10 tusuk sate seperti sate biasanya. Kenapa? karena ukuran sate buntel ini besar dan satu porsi sate biasanya sudah cukup banyak untuk dimakan berdua. Tetapi ada baiknya anda pastikan dulu besar satenya sebelum memesan, agar tidak kelebihan ataupun kekurangan.

Selain sate buntel yang mak nyos tadi, di warung sate Tambak Segaran sangat direkomendasikan untuk mencoba sate kikil kambing yang dijamin empuk dan akan membuat anda ketagihan dan juga Gule Sumsum yang nikmat, bayangkan betapa nikmat menghirup kuah gule sembari menyedot sumsum dari tulang.

4. Babi Pincuk Pasar Gede (haram untuk umat Muslim !)
Jika anda wisatawan non Muslim, Kota Solo juga mempunyai makanan khas yang berbahan dasar B2 (Babi), salah satunya adalah Babi Pincuk.

Penjual Babi Pincuk dapat dijumpai di sekitar Pasar Gede. Mereka berjualan bukan dengan tenda darurat ataupun bangunan permanen, melainkan mempergunakan pikulan sederhana. Dan mereka umumnya berjualan hanya disiang hari.

Babi Pincuk, sesuai dengan namanya, disajikan hanya dengan pincuk dari daun pisang, yang dibuat oleh penjualnya hanya dalam waktu 10 detik saja. Tidak dimakan dengan nasi, Babi Pincuk berisi daging dan jeroan babi yang dipotong kecil-kecil dan disiram dengan kuah kecap yang manis dan sambal.

5. Pecel n'Deso
Jika anda datang ke Solo dan ingin menikmati sarapan yang khas dengan suasana yang benar-benar suasana rumah wong Solo, maka anda harus datang ke warung makan Waroeng Tempo Doeloe Pecel Solo. Nama warungnya terdengar sudah jamak, tapi suasana eksotik etnis Jawa pada masa lalu bisa langsung anda rasakan ketika kaki anda baru melangkah ke teras warung yang terletak di Jalan Dr Supomo No 55, Pasar m'Beling, Solo ini.

Kentongan kayu, klontongan sapi digelantungkan di atas pintu masuk. Saat mata memandang ke dalam, gebyok yang usianya sudah ratusan tahun menyedot perhatian. Dua tiang dari kayu glondongan berdiri gagah di antara bangku-bangku panjang yang sama kunonya.

Suasana yang ada di warung tersebut akan membuat anda sejenak melupakan rasa lapar anda. Seperti yang saya rasakan, saya memilih melihat-lihat, mengelilingi ruangan yang luasnya tidak lebih dari 100 meter persegi itu. Mengamati enam meja yang berwarna coklat tua, dinding yang penuh dengan gantungan foto hitam putih asli yang menampilkan potret kehidupan Kota Solo masa lalu.

Sesuai namanya, warung itu memang menyajikan suasana tempo dulu. Setiap detailnya adalah masa lalu, termasuk asesoris yang tak ada hubungannya dengan makanan. Ada tiga mesin jahit tua The Singer nomer seri 204174 buatan Belanda awal tahun 1900-an. Ada pula timbangan bertuliskan SalterÆs Trade-British Made yang uniknya menerapkan kekuatan maksimum timbangan dalam bahasa Belanda, yakni Weegvermogen 10 Kg. Tak hanya itu, tatkala tangan anda ingin merogoh makanan kecil seperti rempeyek, karak, atau kerupuk udang yang disajikan dalam stoples anda akan menemui tulisan Herm Heye-Hamburg-Germany di bagian tutup stoplesnya. Sebuah merk perabot rumah tangga jaman bahula. Hanya itu? Masih ada lagi botol-botol dari tanah liat Erven Lucas het Lootsje-Amsterdam yang berisi beras kencur, temu lawak, dan gula asem siap saji. Dan masih banyak lagi asesoris yang mungkin tidak bisa dijumpai di museum termasuk gramaphon alias piringan hitam.

Kembali ke Pecel n'Deso. Pecel n'Deso yang dimaksud adalah nasi pecel yang nasinya berasal dari beras merah, jenis beras yang kini sulit didapat. Pecelnya, berisikan dedaunan dan tanaman mulai dari jantung pisang, nikir, daun petai cina, bunga turi dan kacang panjang. Sambalnya ada dua pilihan, sambal kacang seperti pecel pada umumnya atau sambal wijen yang memiliki dua pilihan, wijen putih atau hitam. Lauk yang bisa anda pilih disini ada: belut goreng, wader pari yang digoreng tanpa tepung, telur ceplok, sosis solo, bongko (kacang merah dan kelapa), gembrot (kelapa dan daun simbukan), otak dan iso goreng.

Sayup suara dua perempuan berpakaian kebaya yang duduk bersimpuh di teras warung tengah melantunkan tembang Jawa Cokekan dengan diiringi Siter yang dimainkan seorang lelaki membuat suasana Jawa tempo dulu makin terasa dan membuat enggan untuk meninggalkan tempat itu.


6. Cabuk Rambak
Namanya cukup aneh, Cabuk Rambak. Jenis makanan dengan menu utama ketupat ini sangat khas Solo. Istilah khas untuk ketupatnya adalah Gendar Janur, sebab beras yang ditanak untuk dijadikan gendar berada di dalam anyaman janur.

Pada hari-hari biasa, para pedagang cabuk rambak menjajakannya secara berkeliling kampung, tapi saat perayaan Sekaten mereka bisa dijumpai tersebar di halaman Masjid Agung Keraton dalam jumlah puluhan.

Apa sih beda Cabuk Rambak dari ketupat daerah lain? Bisa jadi itu terletak pada bumbu ketupatnya. Ketupat dengan sayur bersantan atau yang dicampur dengan sate ayam barangkali telah umum di beberapa tempat. Tapi, bumbu cabuk rambak itu berbeda. Yakni, wijen yang digoreng bersama santan kelapa, cabai, bawang putih, kemiri, dan gula merah. Itu pula yang menjadi ciri khas penganan itu. Soal cita rasa bumbu seperti itu bagaimana? Tak diragukan lagi. Orang dari wilayah Surakarta sebagian besar menyebutnya bumbu istimewa. Pada tataran yang lebih luas, bumbu serupa itu pula yang menyebabkan banyak orang merasa kangen untuk kembali menikmati, karena ada nilai eksotis atau semacam kelangenan.

Bukan itu saja yang membuat makanan ini jadi istimewa. Karak, sejenis kerupuk dari bahan beras yang menjadi 'suplemen' penganan ini, menjanjikan kenikmatan tersendiri bagi pengudapnya. Orang se-eks Karesidenan Surakarta menyebut rambak untuk penganan yang di beberapa tempat lain disebut kerupuk. Maka, kata rambak pada nama penganan itu memang berasal dari karak yang melengkapi cabuk rambak. Oh ya, untuk menikmatinya kita tidak mempergunakan sendok atau garpu, melainkan mempergunakan lidi.


7. Tengkleng
Kalau anda main ke kota Solo, jangan lupa cicipi Tengkleng asli Solo. Apa sih Tengkleng itu? Gule kambing adalah contoh yang paling dekat untuk menggambarkan cita-rasa Tengkleng bagi mereka yang belum pernah menikmatinya. Yang membedakan tentu saja adalah rasa dan kuahnya. Kuah Gule menggunakan santan kelapa, sementara Tengkleng tidak memakai santan. Jadi lumayan, sumber kolesterolnya berkurang satu!
Selain itu isi Tengkleng adalah tulang-belulang kambing dengan sedikit daging yang menempel. Sebagai lauk pelengkap, diberi sate daging, sate usus, sate jeroan, otak dan bagian organ kambing lainnya yang ikut digulai bersama tulang-tulang, seperti mata, pipi, kuping, dan kandungan (klepon).

Kenikmatan makan Tengkleng akan terasa ketika kita menggerogoti sedikit daging yang tersisa dari tulangnya atau mengisap-isap isi sumsum tulang.

Tertarik? Datang saja ke Pasar Klewer, di sana ada Ibu Ediyem yang berjualan di lapaknya yang sederhana di samping Gapura Pasar Klewer atau ke warung tengkleng Yu Tentrem di Jl. Letjen Sutoyo, Bibis. Biasanya pembeli duduk di atas bangku kayu berdesak-desakan lalu makan dengan lahap menikmati nasi tengkleng yang disajikan. Karena rasanya yang khas, masakan tengklengnya Ibu Ediyem maupun Yu Tentrem sering dipesan pejabat yang mengadakan acara kantor maupun keluarga.


8. Sate Kere
Satu lagi yang wajib dicoba dan lagi-lagi khas Kota Solo (walaupun daerah lain saat ini ada yang mempunyai makanan dengan nama yang sama dengan konten yang berbeda) adalah Sate Kere.

Seperti halnya soto, hidangan sate sebenarnya bukan makanan khas Solo. Tapi untuk sate enak yang satu ini memang khas Solo. Wajib hukumnya bagi anda untuk mampiri ke warung Sate Kere saat ke Solo. Salah satu warung Sate Kere yang terkenal adalah Warung Yu Rebi di daerah Penumping dekat Stadion Sriwedari (yang ini harganya jauh dari kere) atau di depan TK Marsudirini (hanya ada pagi sampai siang, yang ini harganya lebih murah).

Kenapa disebut Sate Kere? Karena di warung Sate Kere anda akan dapat menjumpai sate tempe gembus (tempe yang dibuat dari ampas kedele sisa pembuatan tahu), disamping daging dan jeroan sapi. Namun, biasanya tempe gembus-nya lebih dominan. Karena itu, makanan tersebut kemudian disebut sate kere (satenya orang miskin). Jadi bagi orang yang mengidap penyakit darah tinggi, tak usah menghindar warung ini. Asalkan anda tidak memesan sate jeroan seperti paru, limpa, hati, iso, torpedo, ginjal, babat, iso daging sapi.

Bumbu perendam tempe embus sama dengan bumbu rendaman bahan jeroan. Sedangkan bumbu untuk menyantapnya adalah sambal kacang, dengan kacang yang tidak begitu banyak sehingga terasa lebih ringan. Dalam sehari warung sate Yu Rebi mampu menghabiskan 30 sampai 50 kg daging dan jeroan. Tak heran, karena pelanggannya bukan berasal dari Solo saja, melainkan dari kota-kota sekitar Solo.


9. Gudeg Ceker
Pengalaman wisata kuliner di Gudeg Ceker Bu Kusno Margoyudan di Jl. Wolter Monginsidi, Solo benar-benar pengalaman one of a kind. Bukan hanya karena jam bukanya yang ajaib (Gudeg ini baru buka jam 02:00 dini hari), tapi juga dari banyak dan beraneka ragamnya pembeli mulai dari bapak-bapak penarik becak, hingga pejabat dan wisatawan dari daerah lain. Mereka semua tidak berebutan dan marah-marah minta dilayani. Benar-benar pengalaman yang unik, seakan semua orang paham apa yang mereka inginkan sehingga bersikap baik untuk mendapatkannya. Semua itu terjadi hanya untuk satu alasan: Gudeg Ceker.

Di tempat ini, ceker (kaki ayam) menjadi side dish yang dihidangkan bersama dengan gudeg. Ceker dimasak secara gudeg kering dan biasanya setiap pengunjung bisa menghabiskan 10 hingga 20 ceker sekali makan. Jangan heran, ceker yang disajikan disini lunak dan lezat.

Selain dimakan bersama dengan nasi gudeg, pengunjung bisa juga memesan ceker sebagai side dish dari bubur. Nah kalau dimakan dengan bubur, maka akan lebih nikmat kalau disiram dengan kuah sambal goreng krecek. Cocok sekali untuk sarapan dipukul 04:00 pagi!

Sumpah ... ajiiiiib!


10. Selat Solo
Kebanyakan orang Solo lebih menyukai menyantap sesuatu yang berkuah sebagaimana kebiasaan mereka sehari-hari makan masakan berkuah. Salah satu bentuk percampuran masakan berkuah asal Barat dengan selera lidah lokal dan menjadi makanan khas di Kota Solo adalah Selat Segar Solo. Makanan ini sering dijadikan hidangan pada saat kondangan, tidak hanya di Solo tapi juga sampai di kota-kota lain.

Racikan Selat solo yang juga merupakan adaptasi dari salad terdiri dari daging yang diiris tipis, ditambah rebusan buncis, kentang, wortel, telur rebus, dan mayones, kemudian disiram kuah kecap encer.

Warung atau rumah makan yang paling direkomendasikan ketika anda ingin mencicipi Selat Solo adalah Warung Selat m'Bak Lies di Serengan dan Rumah Makan Kusuma Sari di Jalan Slamet Riyadi. (bersambung).

(sumber: http://kabaresolo.com/)



Mau Baca Yang Lain?



2 komentar:

Anonim mengatakan...

roti khas nya Kota Kuliner Solo ada ngak!!!

Ganep mengatakan...

roti Ganep donk itu kan khas kota Solo sejak 1881

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar Anda

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design