Selamat menikmati informasi dari INFO PLUS

Jumat, 07 Agustus 2009

Kotoran Sapi Menjadi Batu Bata dan Keramik



Bukan Sulap Bukan Sihir! Juga bukan ilusi! Itulah ungkapan tepat untuk menyebut prestasi yang diraih pemuda yang satu ini. Ya, siapa sangka kotoran sapi yang bau, kotor dan menjijikan, dapat diubah menjadi batu bata dan keramik. Semua itu berkat tangan kreatif seorang pemuda bernama Syammahfuz Chazali.



Kotoran Sapi Menjadi Batu Bata
"Batu Bata ini mendapat Juara 1 tingkat International dalam Global Social Competition Venture yang diadakan oleh Universitas Berkley, California, AS 2009. Saya bersama mahasiswa dari Universitas Prasetya Mulya Yogyakarta," kata penemu batu bata kotoran sapi Syammahfuz Chazali, dalam Anugrah 10 Pandu Andalan Nusantara (PANDU) di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa, (14/7/2009). Bahkan saat ini, produk batu batanya telah dilirik 22 negara di berbagai belahan benua.

Batu bata yang ditemukan mahasiswa Fakultas Pertanian, UGM ini 90 persen dari kotoran sapi. Sisanya dari tanah. Waktu merubah kotoran sapi menjadi bahan batu bata selama tiga minggu. Selebihnya diolah seperti batu bata pada umumnya.

"Biaya 30 persen lebih hemat," tambahnya.

Alhasil, kini 22 negara siap mengadopsi teknologi ramah lingkungan tersebut. Guna menghindari permasalahan ke depan, hak paten sedang diproses dan rampung tahun ini.

"Mereka adalah 10 generasi pemuda yang perlu terus didukung," kata Menpora Adhyaksa Dault dalam sambutan pada anugrah acara tersebut.

Kotoran Sapi Menjadi Keramik
Tangan dingin Syammahfuz Chazali yang mengubah kotoran sapi menjadi batu bata ternyata bisa diterapkan juga untuk bahan baku keramik. Jika dipanggang hingga 1.000 derajat celcius, keramik tersebut tak akan pecah atau retak.

"Berbeda dengan keramik campuran pasir yang pecah pada suhu tersebut. Kualitasnya pun lebih bagus," kata Syam di sela-sela Anugrah 10 Pandu Andalan Nusantara (PANDU) di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa, (14/7/2009).

Tantangan mengubah kotoran sapi menjadi 'pasir' adalah menghilangkan gatal dan bau tinja. Guna menaklukan tantangan ini, dia butuh waktu 1 tahun lebih sejak 2006 lalu.

Itu pun tak langsung berhasil karena berbagai kendala. Saat detikcom mencium dan memegang 'pasir' kotoran sapi, benar-benar sudah tak bau dan tak berasa kotoran sapi.

"Saya terinspirasi sapi, dia kan makan rumput yang mengandung serat. Nah logikanya kotoran juga mengandung serat yang bisa membuat gerabah," ujar mahasiswa Fakultas Pertanian UGM tersebut.

Dalam mewujudkan idenya, dia mengumpulkan dana dan berbagai lomba karya ilmiah yang diadakan kampusnya. Dari hadiah Rp 1-3,5 juta. Pernah pula ia mengalami putus asa yang mendalam karena gagal dalam sebuah ajang adu kreatif ilmiah.

Tapi usaha gigihnya kini menghasilkan sesuatu yang telah menaklukan mahasiswa dari penjuru dunia di Universitas Barkeley California beberapa pekan lalu.

"Sekarang saya telah membuat 40 inovasi lainnya. Salah satunya bekatul menjadi bahan baku brownies. kenapa harus gandum? kan harus impor tuh," bebernya.
(sumber: detikNews)

Mau Baca Yang Lain?



0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar Anda

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design