Selamat menikmati informasi dari INFO PLUS

Rabu, 19 Agustus 2009

Kebenaran yang Hilang (Sinopsis)

Fikih Ahmad bin Hanbal

Sudah dikenal bahwa Ahmad bin Hanbal adalah seorang ahli hadis dan bukan seorang fakih. Para pengikutnya telah mengumpulkan sebagian pendapatnya yang beraneka ragam, yang dinisbahkan kepadanya, dan kemudian menjadikannya sebagai sebuah mazhab fikih. Oleh karena itu, kita mendapati kumpulan hukum fikih yang dinisbahkan kepada Ahmad bin Hanbal bermacam-macam dan saling bertentangan. Di samping perbedaan mereka di dalam menafsirkan maksud dari beberapa ungkapan, yang darinya tidak dapat dipahami hukum agama dalam suatu masalah. Seperti ungkapan "la yanbaghi" (tidak selayaknya), apakah ungkapan ini dimaksudkan untuk menunjukkan hukum haram atau hukum makruh. Demikian juga ungkapan "yu'jibuni" (membuat saya kagum) dan ungkapan "la yu 'jibuni" (tidak membuat saya kagum), serta ungkapan "akrohuhu" (saya membencinya) dan ungkapan "uhibbuhu" (saya menyukainya).

Di samping itu, Ahmad juga tidak mengaku dirinya termasuk ahli fikih. Bahkan, dia menghindarkan diri dari mengeluarkan fatwa. Khatib berkata dengan disertai sanadnya, "Saya pernah berada di samping Ahmad. Lalu seorang laki-laki bertanya kepadanya tentang halal dan haram. Ahmad berkata kepadanya, 'Tanyalah kepada orang lain selain kami.' Orang itu berkata, 'Kami hanya menginginkan jawaban darimu, wahai Aba Abdillah.' Ahmad tetap berkata, 'Tanyalah kepada selain kami. Tanyalah para fukaha, dan tanyalah Abu Tsaur.'"[215] Dia tidak menganggap dirinya termasuk ke dalam kelompok para fukaha.



Al-Marwazi berkata, "Saya mendengar Ahmad berkata, 'Adapun tentang hadis, kami telah beristirahat darinya; sedangkan mengenai masalah-masalah fikih, saya telah bertekad, jika saya ditanya tentang sesuatu maka saya tidak akan menjawab.'"[216]

Khatib menyebutkan sekaligus dengan sanadnya, bahwa dia mendatangi Ahmad bin Harb (seorang zuhud dari Naisabur) yang datang dari Mekkah. Lalu Ahmad bin Hanbal berkata kepada saya, "Siapa orang Khurasan yang datang ini?"

Saya jawab, "Dia adalah orang zuhud yang begini begini."

Ahmad bin Hanbal berkata, "Tidak layak bagi seseorang yang mengklaim sifat zuhud memasukkan dirinya ke dalam urusan pemberian fatwa.'"[217]

Inilah kebiasaannya. Dia tidak masuk ke dalam urusan pemberian fatwa. Bahkan dia memandang urusan pemberian fatwa tidak sejalan dengan sifat zuhud. Bagaimana mungkin dari orang yang seperti ini memiliki fikih atau mazhab yang diikuti di dalam urusan-urusan ibadah?!

Abu Bakar al-Asyram —murid Ahmad bin Hanbal— berkata, "Dahulu saya hafal fikih dan perbedaan-perbedaannya, namun sejak saya menyertai Ahmad saya meninggalkan semuanya itu."

Ahmad bin Hanbal berkata, "Janganlah kamu berkata tentang suatu masalah yang kamu tidak mempunyai imam di dalamnya."[218]

Atau dengan ungkapan yang lebih jelas, "Janganlah kamu memberikan fatwa meski pun di tanganmu ada hadis, kecuali jika kamu mempunyai imam tempat kamu bersandar di dalam fatwa ini."

Ahmad bin Hanbal juga tidak melihat perlunya dilakukan tarjih (menguatkan yang satu atas yang lain) di antara perkataan-perkataan para sahabat, jika mereka berselisih di dalam suatu masalah. Dia malah berpendapat silahkan Anda mengikuti mana yang Anda suka. Inilah jawaban yang diberikannya kepada Abdurrahman ash-Shair tatkala Abdurrahman ash-Shair bertanya kepadanya, "Apakah mungkin dilakukan tarjih di antara perkataan-perkataan para sahabat?"

Orang yang melarang dilakukannya tarjih dan mengambil perkataan yang paling maslahat adalah orang yang paling jauh dari ijtihad. Salah satu bukti yang menunjukkan akan tidak adanya mazhab fikih Ahmad bin Hanbal ialah, banyak dari kalangan para sahabatnya yang fanatik kepadanya berselisih berkenaan dengan mazhab fikih mereka.

Apakah mereka itu orang-orang Hanafi atau orang-orang Syafi’i? Seperti Abul Hasan al-Asy'ari, manakala dia meninggalkan paham Mu'tazilah dan menjadi seorang Hanbali, dia tidak dikenal sebagai orang yang memeluk agama Allah dengan fikih Hanbali. Demikian juga halnya dengan Qadhi al-Baqalani, yang tadinya seorang Maliki. Begitu juga dengan Abdullah al-Anshari al-Harawi, yang wafat pada tahun 481 Hijrah, yang mengatakan,

"Aku adalah Hanbali

selama aku hidup dan sesudah aku mati

Pesanku kepada manusia,

hendaknya mereka menjadi orang-orang Hanbali."

Meski pun dia begitu fanatik kepada Ahmad bin Hanbal, namun di dalam fikih dia mengikuti jalan Ibnu Mubarak. Inilah yang banyak dikenal dari orang-orang sezaman dengannya dan dari orang-orang yang dekat dengan masanya. Orang-orang yang menisbahkan dirinya kepadanya adalah orang-orang yang menisbahkan dirinya dalam bidang keyakinan, bukan dalam bidang fikih.

Di samping itu, di dalam risalahnya Ahmad bin Hanbal melarang penggunaan ra'yu, qiyas dan istihsan, dan meletakkan orang-orang yang meyakini qiyas ke dalam deretan orang-orang Jahmiyyah, Qadhariyyah dan rafidhah (Syi'ah). Dia juga menyerang pribadi Abu Hanifah. Meski pun demikian, penggunaan qiyas telah dimasukkan ke dalam fikih Hanbali. Inilah yang menjadikan kita curiga bahwa Ahmad bin Muhammad bin Harun (Abu Bakar al-Khalal), yang wafat pada tahun 311 Hijrah, yang merupakan perawi dan penukil fikih Hanbali, tidak amanah di dalam melakukan penukilan. Dia melakukan pencampuran di dalam penukilannya. Terlebih lagi bahwa Ahmad bin Muhammad bin Harun tidak hidup sezaman dengan Ahmad bin Hanbal. Ahmad bin Muhammad bin Harun telah mengumpulkan berbagai macam masalah fikih yang dinisbahkan kepada Ahmad bin Hanbal. Kecurigaan ini pun dikuatkan oleh adanya perselisihan riwayat yang hebat di dalam perkataan-perkataan Ahmad, sehingga sulit bagi akal untuk menisbahkan seluruhnya kepada Ahmad bin Hanbal.

Abu Zuhrah berkata, "Sesungguhnya fikih yang ternukil dari Ahmad bin Hanbal, saling berlawanan sedemikian rupa perkataan-perkataannya sehingga sulit bagi akal untuk menisbahkan seluruhnya kepadanya. Bukalah kitab mana saja dari kitab-kitab Hanbali, dan bab mana saja dari bab-babnya, niscaya Anda akan mendapati dia tidak terbebas dari beberapa masalah yang riwayat-riwayatnya saling berlawanan, antara 'tidak' dan 'ya'."[219]

Mazhab fikih Hanbali tidaklah jelas bagi bagi orang-orang yang hidup sezaman dengannya, dan memang tidak ada; dia tidak lebih hanya semata-mata mazhab buatan yang disebarkan dengan kekerasan dan pemaksaan oleh para pengikut Hanbali. Seperti yang terjadi di kota Baghdad, yang sebelumnya dikuasai oleh mazhab Syi'ah. Sedangkan di luar kota Baghdad mazhab ini tidak dikenal. Pada abad ketujuh, hanya beberapa orang saja yang memeluk mazhab ini di Mesir. Namun, tatkala Muwaffaquddin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Malik al-Hijazi menduduki posisi jabatan kehakiman, yang wafat pada tahun 769 Hijrah, maka mazhab Hanbali pun tersebar dengan perantaraannya. Dia mendekati para fukaha mazhab Hanbali dan meninggikan kedudukan mereka. Sedangkan di daerah-daerah lain nama mazhab Hanbali tidak banyak disebut. Ibnu Khaldun memberikan analisa tentang hal itu, "Adapun Ahmad, jumlah mukallidnya sedikit, dikarenakan mazhabnya jauh dari ijtihad." Sebagaimana yang dia sebutkan di dalam kitabnya al-Muqaddimah. Orang-orang Hanbali tidak menemukan jalan untuk menyebarluaskan mazhab mereka kecuali dengan kekacauan dan melakukan pemukulan terhadap orang di jalan-jalan, sehingga menggoyahkan stabilitas yang ada di kota Baghdad. Maka keluarlah maklumat dari Khalifah ar-Radhi yang menyalahkan tindakan mereka dan mengecam mereka karena keyakinan mereka tentang tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk). Beberapa peng-galan dari maklumatnya berbunyi sebagai berikut, "Kalian mengira wajah kalian yang buruk serupa dengan Tuhan semesta alam, dan bentuk kalian yang jelek serupa dengan bentuk-Nya. Kalian juga menyebutkan telapak tangan, jari jemari, dua kaki naik ke langit dan turun ke dunia. Mahatinggi Allah dari segala sesuatu yang dikatakan oleh orang-orang yang zalim dan kufur."[220]

Maka demikianlah keadaan mazhab Hanbali. Mereka tidak mempunyai banyak pengikut. Orang-orang lari dari mereka disebabkan keyakinan-keyakinan yang mereka miliki tentang Allah dan penyerupaan yang mereka lakukan terhadap Allah dengan makhluk-Nya. Mereka mensifati Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya. Mazhab ini tidak menemukan kesempatan yang cukup untuk menyebarkan ajarannya, hingga datanglah mazhab Wahabi di bawah pimpinan Muhammad bin Abdul Wahab, yang dibangun di atas garis mazhab Hanbali. Penguasa Keluarga Su'ud membantu Muhammmad bin Abdul Wahab menyebarkan mazhabnya dengan ketazaman pedang, pada awalnya, dan melalui aliran uang rial, pada akhirnya. Sungguh sangat disayangkan, banyak sekali manusia yang berpegang kepada fikih Hanbali dengan tanpa mempunyai alasan kecuali hanya bersandar kepada kata-kata "Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka."

Jika tidak demikian, maka mau tidak mau mereka harus membuktikan argumentasi-argumentasi mereka di dalam tiga hal: Pertama, tentang kedudukan Ahmad bin Hanbal sebagai fakih. Kedua, bahwa fikih yang dinisbahkan kepada Ahmad bin Hanbal tidak dipalsukan. Dan yang ketiga, mereka harus membuktikan dalil yang kuat yang menunjukkan wajibnya mengikuti Ahmad bin Hanbal. Karena jika tidak, maka itu tidak lain hanya mengikuti sesuatu berdasarkan sangkaan. Padahal sesungguhnya sangkaan itu tiada memberikan faidah sedikit pun terhadap kebenaran. Di samping itu, orang-orang yang fanatik kepada Ahmad bin Hanbal pun, seperti Ibnu Qutaibah, tidak menyebut Ahmad ke dalam kelompok para fukaha. Jika memang dia seorang fakih dan mujtahid maka tentu Ibnu Qutaibah tidak akan mengurangi haknya. Demikian juga Ibnu Abdul Barr tidak menyebut namanya manakala dia menyebut nama-nama para fukaha di dalam kitabnya al-Intiqa. Begitu juga Ibnu Jarir ath-Thabari, penulis kitab tafsir dan tarikh, dia tidak menyebut nama Ahmad bin Hanbal di dalam kitabnya Ikhtilaf al-Fuqaha. Ibnu Jarir ath-Thabari ditanya tentang hal itu. Dia menjawab, "Ahmad bukan seorang fakih melainkan seorang muhaddis, dan saya tidak melihat dia mempunyai para sahabat tempat dia bergantung." Para pengikut Hanbali merasa tersinggung dengan ucapan Ibnu Jarir ath-Thabari lalu mengatakan, "Dia itu (Ibnu Jarir) seorang rafidhi. Tanyalah kepadanya tentang hadis 'duduk di atas 'arasy', niscaya dia akan mengatakan, 'Sesungguhnya itu mustahil.'" Kemudian ath-Thabari membacakan syair,

"Mahasuci Zat yang tidak mempunyai teman

dan tidak duduk di atas 'arasy."

Maka mereka pun melarang orang-orang untuk duduk dan datang menemui ath-Thabari. Mereka melontarkan tuduhan terhadapnya di mihrab-mihrab mereka. Ketika ath-Thabari sedang berada di rumahnya, mereka melemparinya dengan batu sehingga batu itu bertumpuk.[221]

Ini menunjukkan kefanatikan dan penyimpangan para pengikut Hanbali di dalam menyebarkan mazhab mereka, yang tidak diakui oleh para ulama. Syeikh Abu Zharah berkata, "Banyak dari kalangan orang-orang terkemuka tidak menghitung Ahmad termasuk ke dalam kelompok fukaha, seperti Ibnu Qutaibah, yang sangat dekat sekali dengan masa Ahmad, Ibnu Jarir ath-Thabari dan yang lainnya.

▪▪▪▪
PENUTUP

Setelah kita menjelaskan madrasah-madrasah fikih di kalangan Ahlus Sunnah, tampak jelas bagi kita bahwa tidak ada kelebihan yang dimiliki mazhab-mazhab ini atas mazhab-mazhab yang lainnya, sehingga bisa tersebar ke seluruh dunia Islam, sekiranya para penguasa tidak menetapkan para Imam mazhab yang empat sebagai satu-satunya sumber rujukkan fikih. Karena penguasa yang sedang berkuasa tidak mungkin memerangi agama, bahkan sebaliknya mereka menolong dan mendekati para ulama, namun dengan syarat bahwa ajaran-ajaran mereka tidak mengganggu kepentingan-kepentingan kekuasaan. Sehingga dengan demikian, kedudukan seorang penguasa berada di atas yang lainnya.

Oleh karena itu, kita mendapati mazhab yang empat telah dipilih oleh para penguasa dari sekian ratus mazhab yang ada, dan mereka mendapat pengampunan dan keridaan sultan. Para penguasa mendudukkan para murid mazhab-mazhab tersebut pada jabatan kehakiman dan menjadikan urusan agama berada di tangan mereka. Kemudian mereka menyebarkan mazhab-mazhab pendahulu mereka yang sesuai dengan keinginan penguasa. Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Kebijaksanaan pada masa kekuasaan al-Muntashir al-Abbasi menetapkan keharusan berpegang kepada perkataan tokoh-tokoh terdahulu, dan tidak boleh sebuah perkataan disebutkan bersama perkataan mereka. Sementara para ulama di seluruh negeri memberi fatwa akan wajibnya mengikuti mazhab yang empat dan mengharamkan mazhab yang lainnya, serta menutup pintu ijtihad.

Ahmad Amin berkata, "Penguasa mempunyai peranan yang besar di dalam memenangkan mazhab-mazhab Ahlus Sunnah. Biasanya, jika sebuah pemerintahan yang kuat mendukung sebuah mazhab maka orang-orang akan mengikuti mazhab tersebut. Mazhab tersebut akan terus berkuasa sampai lenyapnya pemerintahan yang mendukungnya."[222]

Setelah semua penjelasan ini, apakah masih ada orang yang berargumentasi tentang wajibnya mengikuti mazhab yang empat?!

Apakah memang ada dalil yang mengatakan bahwa mazhab hanya terbatas pada mazhab yang empat?!

Jika di sana tidak ada dalil yang menunjukkan tentang wajibnya berpegang kepada mereka, apakah itu berarti Allah dan Rasul-Nya telah lalai akan masalah ini, dan tidak menjelaskan kepada mereka tentang dari mana seharusnya mereka mengambil agama mereka dan syariat hukum mereka?!

Mahasuci Allah dari membiarkan makhluk-Nya dengan tanpa menjelaskan kepada mereka hukum-hukum mereka dan jalan yang akan menyelamatkan mereka. Allah SWT telah menjelaskan melalui lidah Rasulullah saw dan telah menegakkan hujjah akan wajibnya mengikuti 'itrah Rasulullah saw. Akan tetapi, manakala 'itrah Rasulullah saw yang suci menentang para penguasa zalim yang sezaman dengan mereka dan juga orang-orang yang merampas hak-hak mereka, maka para penguasa berusaha memalingkan manusia dari mereka dan melarangnya untuk berpegang kepada mereka. Karena, manusia kebanyakan hanya mengikuti orang yang keras suaranya. Mereka akan bergerak ke arah mana pun angin bergerak. Mereka tidak mencari sinar dengan cahaya ilmu dan tidak berlindung kepada pilar yang kokoh.

Sebaliknya, Anda dapat melihat kepada madrasah Ahlul Bait —Syi'ah— yang tidak memerlukan para penguasa untuk mencemerlangkan para fukahanya. Bahkan mereka berpegang teguh kepada apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah saw, "Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua benda yang sangat berharga, yaitu Kitab Allah dan 'itrah Ahlul Baitku. Sesungguhnya Zat yang Mahatahu telah memberitahukan aku bahwa keduanya tidak akan pernah berpisah hingga keduanya menemuiku di telaga."

Mereka berpegang kepada 'itrah Rasulullah saw dan mengambil agama dan pemikiran mereka darinya. Mereka tidak menyalahi Ahlul Bait Rasulullah dan tidak mendahuluinya, serta mereka tidak membutuhkan kepada yang lain untuk memberikan fatwa. Mereka hanya mengambil dari orang-orang yang perkataannya berasal dari perkataan datuknya, dan perkataan datuknya adalah perkataan Rasulullah saw, serta perkataan Rasulullah saw adalah perkataan Jibril, dan perkataan Jibril adalah perkataan Allah SWT.

Seorang penyair berkata,

"Jika engkau ingin mencari mazhab untuk dirimu

yang akan membebaskan kamu pada hari kebangkitan

dari nyala api neraka

maka tinggalkanlah olehmu perkataan Syafi’i, Malik dan

Ahmad, yang diriwayatkan dari Ka'ab al-Ahbar

dan berpeganglah kepada orang-orang yang perkataan

dan ucapannya, 'Datuk kami telah meriwayatkan dari

Jibril, dari al-Bari (Pencipta).'"

Fikih Di Kalangan Syi'ah

Keadaan mengambil agama secara langsung dari para Imam Ahlul Bait as ini terus berlangsung hingga datangnya Imam yang kedua belas, Muhammad bin Hasan al-Mahdi as. Imam Mahdi as telah menggariskan jalan yang harus dilalui oleh orang-orang Syi'ah di dalam mengambil hukum-hukum fikih tatkala beliau ghaib. Imam Mahdi as berkata,

"Adapun barangsiapa di antara para fukaha yang memelihara dirinya, menjaga agamanya, menentang hawa nafsunya serta taat dan tunduk kepada perintah Tuhannya, maka masyarakat umum wajib bertaklid kepadanya."[223]

Dengan begitu maka terbukalah bagi mereka pintu ijtihad, penelitian dan istinbath. Kemudian, muncullah pemikiran tentang konsep marji’iyyah fikih, yaitu di mana mereka memilih dari kalangan ulama orang yang paling banyak ilmunya, paling bertakwa dan paling warak, lalu mereka bertaklid kepadanya di dalam hukum-hukum fikih dan masalah-masalah yang baru. Para fukaha telah menjelaskan secara rinci tentang bab ini. Berikut ini saya kemukakan sebagiannya, yang berasal dari kitab al-Masa'il al-Islamiyyah, karya Ayatullah Uzhma Sayyid Husain asy-Syirazi, halaman 90:

(Masalah 1): Keyakinan seorang Muslim tentang ushuluddin harus berdasarkan dalil dan argumentasi. Seseorang tidak boleh bertaklid dalam masalah ini. Artinya, dia tidak boleh menerima perkataan seseorang dalam masalah ini dengan tanpa dalil.

Adapun di dalam masalah hukum agama dan cabang-cabangnya, seseorang harus menjadi mujtahid yang mampu meng-istinbath hukum dari dalil-dalilnya; atau menjadi mukallid, dalam arti dia beramal sesuai dengan pendapat mujtahid yang memenuhi semua persyaratan; atau dia melaksanakan kewajibannya melalui jalan ihtiyath, dalam arti dia memperoleh keyakinan bahwa dirinya telah menunaikan kewajiban, seperti misalnya jika sekelompok orang dari mujtahid mengeluarkan fatwa akan wajibnya sebuah perbuatan lalu sekelompok mujtahid yang lain memberi fatwa bahwa perbuatan tersebut mustahab, maka di sini dia ber-ihtiyath dengan melakukan perbuatan tersebut. Barangsiapa yang bukan mujtahid dan tidak mungkin baginya berlaku ihtiyath maka wajib atasnya untuk bertaklid kepada seorang mujtahid dan beramal sesuai dengan pendapat mujtahid tersebut.

(Masalah 4): Berkenaan dengan wajibnya bertaklid kepada mujtahid yang lebih tahu (al-a'lam), jika seseorang mengalami kesulitan di dalam menentukan mujtahid yang lebih tahu (al-a'lam) maka dia harus bertaklid kepada mujtahid yang dia sangka lebih tahu. Bahkan, dia wajib bertaklid kepada mujtahid yang menurut perkiraan kecilnya lebih tahu, dan dia mengetahui bahwa mujtahid yang lainnya tidak lebih tahu. Adapun jika sekelompok dari para mujtahid sama di dalam ilmunya —menurut pandangannya— maka dia wajib bertaklid kepada salah seorang dari mereka. Namun, jika salah seorang dari mereka lebih warak dari yang lainnya, maka menurut ihtiyath dia wajib bertaklid kepadanya dan tidak kepada yang lainnya.

(Masalah 5): Fatwa dan pandangan seorang mujtahid dapat diperoleh melalui salah satu cara dari empat cara berikut ini,

1. Mendengar langsung dari mujtahid yang bersangkutan.

2. Mendengar dari dua orang yang adil yang menukil fatwa mujtahid.

3. Mendengar dari orang yang dapat dipercaya ucapannya dan dapat dipegang penukilannya.

4. Adanya fatwa di dalam risalah amaliah, disertai dengan keyakinan akan benarnya apa yang terdapat di dalam risalah amaliah tersebut, dan terbebasnya dari kesalahan.

Fikih telah berkembang pesat di kalangan Syi'ah. Di kalangan mereka banyak terdapat hawzah-hawzah agama yang mengeluarkan para fukaha dan marji', yang kemudian dari sekian banyak fukaha tersebut akan muncul yang tunggal. Ini terus berlangsung sepanjang sejarah, dan bahkan hingga hari ini.

Seseorang yang merujuk kepada perpustakaan fikih Syi'ah niscaya akan tercengang di hadapan karya-karya besar itu.

Berikut ini saya nukilkan bagi Anda sedikit contoh dari kitab-kitab fikih Syi'ah.

Di dalam bab riwayat-riwayat yang berkenaan dengan fikih, banyak sekali terdapat kitab-kitab yang berkenaan dengan hal ini. Yang paling terkenal di antaranya ialah:

1. Kitab Wasa'il asy-Syi'ah, terdiri dari 20 jilid besar, karya al-Hurr al-'Amili.

2. Kitab Mustadrak al-Wasa'il, terdiri dari 18 jilid, karya Nuri ath-Thabrasi.

Adapun di antara kitab-kitab fikih argumentatif (istidlaliyyah) di antaranya ialah:

1. Kitab Jawahir al-Kalam, karya Muhammad Hasan an-Najafi, terdiri dari 43 jilid.

2. Kitab al-Hada'iq an-Nadhirah, karya Syeikh Yusuf al-Bahrani, terdiri dari 25 jilid.

3. Kitab Mustamsak al-'Urwah al-Wutsqa, karya Sayyid Muhsin Thabathabai al-Hakim, terdiri dari 14 jilid.

4. Kitab al-Mawsu'ah al-Fiqhiyyah, karya Sayyid Muhammad al-Husaini asy-Syirazi, termasuk ulama zaman sekarang. Kitab ini telah dicetak dalam bentuk seratus sepuluh jilid. Kitab ini mencakup seluruh bab fikih. Di antaranya ialah fikih Al-Qur'an al-Karim, fikih hukum, fikih negara Islam, fikih pengelolaan, fikih politik, fikih ekonomi dan fikih sosial.

5. Salah satu dari ensiklopedia fikih modern lainnya ialah kitab Fiqh ash-Shadiq, karya Sayyid Muhammad Shadiq ar-Ruhani, terdiri dari 26 jilid; kemudian kitab Silsilah Yanabi' al-Mawaddah, karya Ali Ashghar Murwaridi, terdiri dari 30 jilid.

▪▪▪▪▪
DIALOG YOHANES DENGAN PARA ULAMA MAZHAB YANG EMPAT

Kita akhiri pasal ini dengan dialog yang terjadi di antara Yohanes dengan ulama mazhab yang empat. Ini merupakan dialog yang paling indah di dalam bab ini. Para pembaca hendaknya merenungi berbagai hujjah yang kokoh dan bijaksana yang terdapat di dalam dialog ini. Saya menukil dialog ini dari kitab Munadzarah fi al-Imamah, karya Abdullah Hasan.

Yohanes berkata, "Ketika saya melihat berbagai perselisihan di kalangan para sahabat besar, yang nama-nama mereka disebut bersama nama Rasulullah di atas mimbar, hati saya menjadi resah dan gelisah, dan hampir saya mendapat musibah dalam agama saya. Maka saya pun bertekad untuk pergi ke Baghdad, yang merupakan kubah Islam, untuk menanyakan berbagai perselisihan yang terjadi di antara para ulama kaum Muslimin yang saya lihat, supaya saya dapat mengetahui kebenaran dan mengikutinya. Ketika saya berkumpul dengan para ulama dari mazhab yang empat saya berkata kepada mereka, 'Saya adalah seorang dzimmi, dan Allah SWT telah menunjukkan saya kepada Islam, maka saya pun memeluk Islam. Sekarang, saya datang kepada Anda untuk mendapatkan ajaran agama, syariat Islam dan hadis dari Anda, supaya bertambah pengetahuan saya di dalam agama saya.'

Yang tertua dari mereka —yang merupakan seorang ulama Hanafi— berkata, 'Wahai Yohanes, mazhab Islam itu ada empat. Oleh karena itu, pilihlah salah satu darinya, dan kemudian mulailah baca kitab yang kamu kehendaki.'

Saya berkata kepadanya, 'Saya melihat terdapat perselisihan, namun saya tahu bahwa kebenaran ada pada salah satu di antaranya. Maka Oleh karena itu, pilihkanlah bagi saya —menurut yang Anda ketahui— kebenaran sebagaimana yang dipegang oleh Nabi Anda.'

Ulama Hanafi itu berkata, 'Sesungguhnya kami tidak mengetahui dengan pasti kebenaran mana yang dipegang oleh Nabi kami, namun kami yakin bahwa jalannya tidak keluar dari salah satu kelompok Islam yang ada. Masing-masing dari kami yang empat mengatakan bahwa kamilah yang benar namun mungkin juga salah. Masing-masing mereka juga mengatakan bahwa selainnya salah namun mungkin juga benar. Singkatnya, sesungguhnya mazhab Hanafi adalah mazhab yang paling dekat dan paling sesuai dengan sunah. Mazhab yang paling masuk akal dan mazhab yang paling tinggi di kalangan manusia. Mazhab Hanafi adalah mazhab yang paling banyak dipilih oleh umat, dan bahkan mazhab pilihan para sultan. Kamu harus berpegang kepadanya, niscaya kamu selamat.'"

Yohanes berkata, "Maka berteriaklah Imam dari mazhab Syafi’i, dan saya kira terdapat perselisihan di antara Syafi’i dan Hanafi. Imam mazhab Syafi’i itu berkata kepada ulama Hanafi tersebut, 'Diam, jangan kamu bicara. Demi Allah, kamu telah membual dan telah berdusta. Dari mana kamu mengistimewakan suatu mazhab atas mazhab-mazhab yang lain, dan dari mana kamu menguatkan (tarjih) seorang mujtahid atas mujtahid-mujtahid yang lain? Celaka kamu. Di mana kamu telah mempelajari apa yang telah dikatakan oleh Abu Hanifah, dan apa-apa yang telah diqiyaskan dengan ra'yunya? Sesungguhnya dia (Abu Hanifah)lah orang yang disebut dengan sebutan 'tuan ra'yu', yang berijtihad dengan sesuatu yang bertentangan dengan nas, yang menggunakan istihsan di dalam agama Allah. Sampai-sampai dia meletakkan pendapatnya yang lemah dengan mengatakan, 'Jika seorang laki-laki yang berada di India menikahi seorang wanita yang ada di Romawi dengan akad syar'i. Lalu, setelah beberapa tahun kemudian laki-laki itu mendatangi istrinya dan mendapatinya dalam keadaan hamil dan menggendong anak. Laki-laki itu bertanya kepada istrinya, 'Siapa mereka ini?' Wanita itu menjawab, 'Anak-anakmu'. Kemudian laki-laki itu mengadukan masalah itu kepada seorang qadhi Hanafi, maka qadhi Hanafi itu akan menetapkan bahwa anak-anak tersebut adalah berasal dari tulang sulbinya, dan dinisbahkan kepadanya baik secara zahir maupun secara batin. Dia mewariskan kepada mereka dan mereka pun mewariskan kepadanya.' Laki-laki itu protes, 'Bagaimana mungkin, padahal saya belum pernah menyentuhnya sama sekali?' Maka qadhi Hanafi itu menjawab, 'Mungkin saja Anda pernah berjunub, atau Anda pernah keluar mani lalu air mani Anda terbang dan jatuh ke dalam kemaluan wanita ini.'[224] Wahai Hanafi, apakah ini sesuai dengan Kitab dan sunah?'"

Bagai Anda yang ingin membaca isi buku Kebenaran yang Hilang secara lengkap, silakan membuka: http://www.al-shia.org/html/id/books/Kebenaran-Hilang/index.htm

Mau Baca Yang Lain?



0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar Anda

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design