Selamat menikmati informasi dari INFO PLUS

Minggu, 26 Juli 2009

Taman Nasional Alas Purwo di Banyuwangi



A. Selayang Pandang

Taman Nasional Alas Purwo (atau biasa disingkat Alas Purwo) terletak di
ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Bagi masyarakat sekitar, nama /alas purwo/ memiliki arti sebagai hutan
pertama, atau hutan tertua di Pulau Jawa. Oleh sebab itu, tak heran bila
masyarakat sekitar menganggap Alas Purwo sebagai hutan keramat.
Sehingga, selain diminati sebagai tujuan wisata alam, kawasan Alas Purwo
juga diyakini memiliki situs-situs yang dianggap mistis yang menjadi
magnet bagi para peziarah untuk melakukan berbagai ritual di hutan ini.

Taman nasional yang diresmikan melalui SK Menteri Kehutanan No.
283/Kpts-II/92 ini merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan
dataran rendah di Pulau Jawa. Ketinggiannya berada pada kisaran 0?322
meter di atas permukaan laut (dpl) dengan topografi datar, bergelombang
ringan, dengan puncak tertinggi di Gunung Lingga Manis (322 meter dpl).
Berdasarkan ekosistemnya, tipe-tipe hutan di Taman Nasional Alas Purwo
dapat dibagi menjadi hutan bambu, hutan pantai, hutan bakau/mangrove/,
hutan tanaman, hutan alam, dan padang penggembalaan (Feeding Ground).
Jika diamati sekilas, dari luas lahan sekitar 43.420 hektar, taman
nasional ini didominasi oleh hutan bambu, yang menempati areal sekitar
40 % dari seluruh area yang ada.



Secara umum, keadaan tanah di taman ini sebagian besar adalah tanah liat
berpasir, sedangkan sebagian kecil lainnya berupa tanah lempung. Curah
hujan per tahun rata-rata berkisar antara 1.000?1.500 mm dengan
temperatur antara 27°-30° C, dan kelembaban udara antara 40?85 %.
Biasanya, musim kemarau terjadi pada bulan April sampai Oktober,
sementara musim penghujan terjadi sebaliknya, yaitu pada bulan Oktober
hingga April.


B. Keistimewaan

Taman Nasional Alas Purwo sangat tepat bagi para pelancong yang gemar
menjelajahi hutan, mengamati tumbuhan dan satwa liar, atau penggemar
wisata pantai, penikmat selancar air (surfing), atau mereka yang
menyukai wisata ziarah. Taman Nasional Alas Purwo memang memiliki hutan
yang masih alami, beberapa pantai dan teluk yang indah, serta
situs-situs mistis yang kerap menjadi lokasi bersemedi atau tirakat
masyarakat setempat dan para pendatang.

Mengunjungi Taman Nasional Alas Purwo, wisatawan dapat mengamati
kekayaan flora dan fauna yang ada. Taman nasional ini memiliki
setidaknya 13 jenis bambu dan 548 jenis tumbuhan lain yang terdiri dari
rumput, herba, semak, liana, dan pohon. Tumbuhan khas dan endemik yang
terdapat di taman nasional ini yaitu sawo kecik (Manilkara kauki) dan
bambu manggong (Gigantochloa manggong). Tumbuhan lainnya adalah
ketapang (Terminalia cattapa), nyamplung (Calophyllum inophyllum),
kepuh (Sterculia foetida), dan keben (Barringtonia asiatica).

Kondisi alamnya yang masih alami membuat Taman Nasional Alas Purwo menjadi habitat yang cocok bagi berbagai satwa liar, seperti lutung budeng (Trachypithecus auratus auratus), banteng (Bos javanicus javanicus), ajag (Cuon alpinus javanicus), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus melas), kucing bakau (Prionailurus bengalensis javanensis), serta burung merak (Pavo muticus) dan ayam hutan (Gallus gallus). Tak hanya satwa darat, satwa air yang langka dan dilindungi seperti penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), serta penyu hijau (Chelonia mydas) juga menjadi penghuni di pantai selatan taman nasional ini (Pantai Ngagelan).

Selain area hutan, Taman Nasional Alas Purwo juga memiliki *padang
savana* bernama *Sadengan* dengan luas _+_ 20 hektar, terletak sekitar
12 km dari pintu masuk taman nasional di Pasar Anyar. Padang savana ini
merupakan padang penggembalaan satwa liar seperti banteng, kijang, rusa,
kancil, babi hutan, burung merak, ayam hutan, dan berbagai jenis burung
lainnya. Tentu saja, di tempat ini wisatawan dapat mengamati langsung
aktivitas hewan-hewan liar tersebut.


Sekitar 1,5 km dari padang savana Sadengan, terdapat *Pantai
Trianggulasi*. Nama /trianggulasi/ diambil dari sebuah Tugu
Trianggulasi, yaitu tugu penanda untuk keperluan pemetaan yang berada di
pantai ini. Pantai Tria
nggulasi memiliki hamparan pasir putih yang cukup
luas dengan formasi hutan pantai yang didominasi oleh pohon bogem dan
nyamplung. Lokasi ini cukup cocok untuk kegiatan wisata bahari,
berkemah, maupun menyaksikan matahari tenggelam (sunset). Pantai ini
juga menyediakan wisma tamu dan pesanggrahan yang dapat digunakan
wisatawan sebelum melanjutkan penjelajahan ke obyek-obyek wisata berikutnya.

Dari Pantai Trianggulasi, berjarak sekitar 5 km arah barat merupakan
lokasi *Pantai Ngagelan*, tempat untuk menyaksikan berbagai jenis penyu.
Pantai ini menjadi tujuan penyu untuk bertelur, serta menjadi lokasi
khusus penangkaran penyu. Peny
u-penyu tersebut umumnya mendarat di
pantai pada bulan Januari sampai September setiap tahun. Pada
bulan-bulan tertentu pula, biasanya diadakan kegiatan pelepasan
penyu-penyu yang sudah siap terjun ke alam bebas.

Lokasi wisata lainnya yang terkenal di mata para peselancar dunia adalah
*Plengkung* yang biasa juga disebut *G-Land*. Nama Plengkung merupakan
nama lokal, sementara G-Land disematkan oleh wisatawan asing yang sangat
terkesan dengan gulungan ombak pantai ini. Nama G-Land memiliki berbagai
konotasi, antara lain: Green, merujuk pada lokasinya yang
berhimpitan dengan hutan primer yang masih alami; Great, merujuk
pada ombaknya yang merupakan salah satu ombak terbaik di dunia untuk
olahraga selancar; serta Grajagan yaitu nama sebuah pelabuhan
nelayan setempat yang menjadi lo
kasi penyeberangan menuju G-Land sebelum
dibangun jalan yang melintasi taman nasional. Kawasan G-Land biasanya
ramai dengan aktivitas para peselancar pada bulan Mei sampai Oktober, di
mana kondisi ombak sedang bagus-bagusnya untuk berselancar.

Plengkung atau G-Land dapat dikatakan baru dikenal sejak tahun 1970-an,
ketika dua orang peselancar asal Kalifornia, Amerika Serikat, bernama
Gerry Lopez dan Mike Boyum mencoba keganasan ombak di Semenanjung
Blambangan ini. Rupanya dua pes
elancar ini sangat terkesan dengan ombak
setinggi 4?6 meter yang memanjang sekitar 2 km dan bergulung-gulung
membentuk formasi 7 gelombang. Formasi gelombang macam ini merupakan
salah satu formasi terbaik di dunia dan menjadi incaran para peselancar
kelas dunia. Dua orang inilah yang kemudian mempopulerkan G-Land sebagai
lokasi berselancar kepada para peselancar lain di seluruh dunia.

Gulungan ombak di G-Land dapat disamakan dengan tiga lokasi lain di

mancanegara, antara lain di Oahu (Hawaii), Fiji, dan Tahiti. Namun,
ombak di G-Land dianggap memiliki kelebihan tersendiri, yaitu ombak yang
besar, keras, dan panjang. Berbeda dengan ombak di Oahu, misalnya, yang
memiliki ombak besar tetapi relatif lebih pendek. Dengan kelebihan
tersebut, tidak mengherankan jika kejuaraan berselancar internasional
Quiksilver Pro pernah diadakan di G-Land tiga kali berturut-turut, yaitu
tahun 1995, 1996, dan 1997. Sayangnya, krisis ekonomi di Indonesia pada
tahun 1998 yang kemudian disusul dengan berbagai kerusuhan sosial
menjadikan panitia penyelenggara
urung mengadakan kembali kejuaraan
tersebut di G-Land.


Ombak di G-Land yang sangat disukai para peselancar dunia
Sumber Foto: http://imassofyan.multiply.com

Dari Plengkung atau G-Land, wisatawan dapat meluncur ke arah utara,
sekitar 8 km, menuju *Pantai Pancur*. Di pantai ini tersedia bumi
perkemahan (Camping Ground) untuk mereka yang senang berkemah di tepi
pantai. Wisatawan juga dapat menikmati keindahan tepi pantai yang
tersusun dari pecahan karang hitam dan pasir gotri (pasir ringan dari
pecahan karang dan kerang yang berbentuk kerikil-kerikil kecil). Jika
melintasi pantai ini, wisatawan disarankan menggunakan alas kaki, sebab
jika tidak hamparan pasir gotri tersebut akan menimbulkan rasa nyeri di
telapak kaki.




Obyek wisata yang juga menarik di Taman Nasional Alas Purwo adalah
Segara Anakan, yaitu sebuah teluk kecil sepanjang 18,8 kilometer
dengan lebar rata-rata 400 meter. Di teluk yang menghadap ke Samudera
Hindia ini, wisatawan dapat bersampan, berenang, memancing, bermain ski
air, atau mengamati tumbuhan mangrove dan burung-burung migran dari
Australia. Segara Anakan terkenal sebagai pantai yang memiliki kawasan
hutan mangrove terluas di Jawa Timur. Tercatat setidaknya 26 jenis
mangrove di kawasan ini yang didominasi oleh Rhizopora, Bruguiera,
Avicenia, dan Sonneratia. Selain menyaksikan mangrove, pada bulan
Oktober hingga Desember, wisatawan juga dapat menikmati ribuan burung
migran dari Australia. Ribuan burung tersebut terdiri dari 16 jenis
burung, seperti cekakak suci (Halcyon chloris/Todirhampus sanctus),
burung kirik-kirik laut (Merops philippinus), trinil pantai (Actitis hypoleucos), dan trinil semak (Tringa glareola).

Tak hanya objek-objek wisata alam, Taman Nasional Alas Purwo juga
memiliki situs-situs ziarah yang banyak dikunjungi wisatawan untuk
memohon berkah. Situs-situs ziarah tersebut tidak dapat dilepaskan dari
legenda Alas Purwo sebagai tempat terakhir pelarian rakyat Majapahit
yang tersingkir akibat menguatnya desakan penyebaran agama Islam saat
itu. Salah satu bukti sejarah yang masih nampak adalah Pura Luhur Giri
Salaka
, yaitu tempat ibadah bagi masyarakat Hindu di sekitar taman
nasional (biasa disebut orang Blambangan). Masyarakat Hindu di sini
diyakini merupakan keturunan rakyat Majapahit yang berpindah menuju
Semenanjung Belambangan. Pura Luhur Giri Salaka biasanya ramai
dikunjungi penganut agama Hindu pada saat dilangsungkannya upacara
Pagerwesi, yaitu upacara mensyukuri anugerah ilmu pengetahuan yang
diturunkan oleh para dewata. Upacara ini dilakukan setiap 210 hari sekali.


Pura Luhur Giri Salaka di dalam area Taman Nasional Alas Purwo
Sumber Foto: http://odesya.multiply.com

Selain pura tersebut, masih ada dua gua yang dianggap keramat, yaitu Gua Padepokan dan Gua Istana, yang menjadi lokasi pilihan bagi mereka yang menyukai olah semedi atau meditasi. Taman Nasional Alas Purwo sebetulnya memiliki sekitar 40 buah gua, baik berupa gua alam maupun gua buatan yang sangat cocok untuk para penjelajah gua. Salah satu gua buatan yang banyak dikunjungi wisatawan adalah Gua Jepang, yang di dalamnya terdapat dua buah meriam peninggalan Jepang sepanjang 6
meter. Apabila masih memiliki waktu yang cukup, wisatawan juga dapat menikmati pesona *Gunung Kawah Ijen*, sebuah gunung yang kesohor karena penambangan belerangnya, yang masih berada dalam kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Gunung Kawah Ijen terletak sekitar 33 km arah utara dari taman nasional ini.

C. Lokasi

Taman Nasional Alas Purwo terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan
Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia.


D. Akses

Kota Banyuwangi terletak sekitar 290 km arah timur Kota Surabaya (Ibu
Kota Provinsi Jawa Timur) dan dapat ditempuh dengan bus atau kereta api.
Sementara dari Pulau Bali, Banyuwangi terletak sekitar 10 km arah barat
yang hanya dipisahkan oleh Selat Bali. Untuk menyeberang ke Banyuwangi,
wisatawan dapat memanfaatkan jasa Kapal Ferry dari Pelabuhan Gilimanuk
menuju Pelabuhan Ketapang.

Dari Kota Banyuwangi, Taman Nasional Alas Purwo, dapat dicapai dengan
menggunakan mobil sewaan (carter mobil /Colt/) menuju Pasar Anyar dengan
jarak tempuh sekitar 65 km. Dari Pasar Anyar wisatawan dapat menyewa
truk atau ojek menuju pos pintu utama di Rawa Bendo. Untuk jasa ojek,
wisatawan harus membayar sektar Rp 20.000 menuju Rawa Bendo (Januari
2009). Wisatawan yang ingin memasuki kawasan Taman Nasional Alas Purwo
biasanya diwajibkan mendaftarkan diri serta membayar tiket di Pos Rawa
Bendo ini. Dari Rawa Bendo, wisatawan dapat memulai penjelajahan hutan,
mengunjungi situs-situs ziarah, atau langsung menuju obyek wisata
pantai, seperti Segara Anakan, Pantai Trianggulasi, Pantai Ngagelan,
serta lokasi /surfing/ di Plengkung.


E. Harga Tiket

Untuk masuk ke Taman Nasional Alas Purwo pengunjung harus membayar tiket
masuk di Pos Rawa Bendo. Pembayaran tiket masuk dibedakan menurut
pekerjaan/profesi pengunjung. Besaran harga tiket masih dalam konfirmasi.


F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Kawasan Taman Nasional Alas Purwo telah dilengkapi fasilitas pemandu,
yaitu para Jagawana (penjaga hutan) atau asisten Jagawana yang dapat
dimintai bantuan untuk memandu penjelajahan. Untuk jasa pemandu ini,
wisatawan harus merogoh kocek antara Rp 75.000 sampai Rp 150.000 per
hari. Di kantor pengawasan taman nasional juga terdapat beberapa mobil
/Jeep/ untuk patroli serta sepeda motor /trail/ yang dapat disewa untuk
keperluan penjelajahan. Apabila membawa kendaraan pribadi, wisatawan
juga dijamin tidak akan kesasar menyusuri hutan karena telah dilengkapi
papan-papan petunjuk menuju berbagai obyek wisata di dalam taman
nasional ini. Papan petunjuk tersebut juga dilengkapi keterangan jarak
yang harus ditempuh (berapa kilometer), serta sarana menuju lokasi
(misalnya dapat ditempuh dengan mobil, sepeda motor, atau jalan kaki).


Selain memiliki beberapa lokasi perkemahan, di beberapa pantai seperti
di Pantai Trianggulasi dan kawasan Plengkung atau G-Land juga telah
tersedia penginapan. Bahkan di kawasan G-Land saat ini telah memiliki
beberapa /cottage/ bagi para peselancar yang dibangun dengan nuansa yang
alami dan menyatu dengan alam. Bahan-bahan bangunannya misalnya terdiri
dari kayu, bambu, dan tali-temali dari ijuk. Tak hanya itu, suasana
alami juga terlihat dari lampu minyak tanah yang dipakai, serta ruang
tidur yang menyerupai gerobak sapi tempo dulu. Dengan
kelebihan-kelebihan tersebut, /conttage/ yang diperuntukkan bagi para
peselancar dunia ini dihargai sekitar 30 US Dollar per malam. Jika Anda
menginginkan penginapan yang lebih sederhana, terdapat beberapa wisma
tamu di Pos Rawa Bendo seharga Rp 100.000 per malam. Selain itu, di
sekitar Pos Rawa Bendo juga terdapat beberapa warung makan (Januari 2009).

Bagi wisatawan yang memerlukan informasi lebih rinci dapat menghubungi
kantor Balai Taman Nasional Alas Purwo, di Jalan Achmad Yani no. 108
Banyuwangi 68416, Jawa Timur. Anda juga dapat menghubungi kantor
tersebut melalui saluran telepon 0333-410857, fax. 0333-428675, atau
E-mail: alaspurwo@telkom.net

(Diolah dari berbagai sumber/Lukman Solihin/wm/40/01-09)

Mau Baca Yang Lain?



0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar Anda

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design