Selamat menikmati informasi dari INFO PLUS

Minggu, 30 November 2008

Salah Sangka

Kejadian ini sebenarnya sudah terjadi cukup lama, yah kira-kira tahun 1995 saat keponakanku lahir. Namun, cukup menggelikan jika teringatnya. Kejadian itu terjadi di rumah bersalin di kotaku. . . .
Kebetulan hari itu hari minggu, aku bermaksud menjenguk kakakku yang sedang melahirkan. Aku datang dengan naik sepeda, maklum rumah bersalin itu cukup dekat dengan rumahku, kira-kira 5 menit bersepeda. Aku datang sekitar pukul 6 pagi. Sesampai di rumah bersalin, sepedaku langsung aku parkir di serambi rumah, bukan di halaman rumah bersalin. Melihat aku datang, kakak iparku (suami kakakku) memintaku untuk masuk dan menunggu istrinya, kakak iparku bermaksud akan pulang untuk mengerjakan sawah. Kakakku pulang dengan membawa sepeda jengki warna biru.

Setelah beberapa saat menunggu di dalam aku mendengar suara ribut-ribut di halaman rumah bersalin.
"Ada apa, Pak?" aku mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi.
"Anu Mas sepedaku hilang!!", kata laki-laki seusia ayahku.
"Sepedanya apa Pak?" aku bertanya lagi.
"Sepeda jengki warna bitu, Mas?"
"O . . yang di depan tadi Pak? Saya pas baru datang masih di depan sini. Sepedanya apa tidak dikunci, Pak?" aku bertanya lagi.
"Tidak. Memang sengaja tidak saya kunci wong saya cuma sebentar ngirim sarapan untuk anak saya. Wah, bagaimana ya, itu sepeda pinjaman tetangga saja," bapak tengah baya itu tampak cemas.
"Lha iya wong pagi-pagi kok ya sudah ada orang mencuri. Keterlaluan itu namanya," aku menimpali.
"Kalau benar-benar hilang harus mengganti, dari mana aku dapat uang," kata bapak tua itu semakin cemas.



Pukul 7 pagi kakakku melahirkan. Karena aku yang menunggui waktu itu, oleh pembantu bidan aku diminta membantu proses kelahiran keponakanku. Alhamdulillah. . . keponakanku lahir perempuan. Setelah bayi perempuan kakakku dinyatakan selamat dan sehat, aku diminta pulang untuk memberi kabar gembira ini kepada ibu - bapakku, maklum bayi perempuan itu cucu pertama orang tuaku. Kuambil sepedaku dan bergegas pulang.

Sesampai di rumah, kulihat sepeda jengki warna biru. Aku berpikir ini pasti sepeda kakak iparku. Kabar gembira kelahiran bayi perempuan itu segera aku sampaikan kepada orang tuaku. Wow . . betapa gembiranya kedua orang tuaku.

Melihat sepeda jengki biru itu aku berniat untuk menaikinya, walau sekadar untuk putar-putar kampung. Bahkan aku menaikinya ketika membeli gula dan teh di pasar. Pernah suatu ketika aku hampir keliru mengambil sepeda serupa di pasar. Maklum belum hafal dengan sepeda kakak iparku itu. Selama seminggu sepeda itu ada di rumahku.

Kira-kira satu minggu, kakak iparku mampir ke rumah setelah berbelanja dari pasar. Setengah jam kira-kira kakaku berbincang dengan kedua orang tuaku dan berniat berpamitan.
"Mas, sepedanya yang ini kok tidak di bawa?" aku mengingatkan kakakku barangkali sepedanya di sana diperlukan untuk wira-wiri.
"Sepeda yang mana?" tanya kakak iparku penasaran.
"Sepeda itu kan milik Mas 'kan?" jawabku sambil menunjuk sepeda jengki biru.
"Lho bukannya itu sepedamu?" jawab kakakku tampak heran.
"Bukan Mas, sepedaku yang ini," jawabku sambil menunjuk sepeda jengki warna hijau.
"Lho yang biru itu milik siapa? Dulu saya bawa dari rumah bersalin. Saya kira itu sepedamu." jawab kakakku tampak bingung. Aku teringat peristiwa seminggu yang lalu di halaman rumah bersalin. Jangan-jangan ini sepeda bapak itu, kataku dalam hati. Aku mulai menceritakan peristiwa seminggu yang lalu, ketika seorang bapak=bapak setengah baya kehilangan sepedanya, sepeda jengki warna biru.
"Wah, jangan-jangan ini sepeda bapak itu?" kata kakakku di sela-sela ceritaku.
"Mungkin iya, Mas. Terus harus bagaimana Mas, kita tidak tahu rumah bapak itu?" tanyaku.
"Gini aja kita laporkan ke kantor polisi (polsek)," jawab kakak iparku.

Saat itu pula aku dan kakak iparku pergi ke kantor polisi. Aku menaikki sepeda jengki warna hijau kepunyaanku, sedangkan kakak iparku menaiki sepeda jengki biru, punya bapak itu. Sesampai di kantor polisi, kami ditemua dua orang petugas jaga. Kami secara bergantian menceritakan kejadian yang sebenarnya tentang sepeda itu.
"Memang seminggu yang lalu ada seorang bapak yang melapor kehilangan sepeda. Rumahnya Kaligawe (Pedan, Klaten).Wah, Anda bisa kategorikan mencuri," kata salah seorang petugas. Aku tidak terima dengan perkataan itu.
"Ya tidak to Pak. Kalau aku berniat mencuri pasti sudah saya jual. Nyatanya barang masih utuh," aku mencoba berkilah.
"Tetap saja, kenyataannya sepeda itu kamu bawa dan menginap di rumahmu selama satu minggu," kata petugas itu lagi.
"Sudah sekarang begini saja, bagaimana kalau sekarang sepeda itu kalian antar kepelapor langsung saja?" pinta salah seorang petugas mencoba memberi solusi.
"Yah baik, Pak. Saya rasa itu pilihan yang lebih baik." kata kakak iparku.
Aku bersama kakak iparku langsung melaju ke desa Kaligawe. Sambil bersepada kami berbincang, kepada siapa sepeda ini diantakan, kami cuma punya alamat desanya, sedangkan nama pemilik sepeda itu tidak tahu. Kami punya ide, kami akan langsung menuju rumah kepala desa. Kebetulan siang itu Pak Lurah ada di rumah, kami mengutarakan tujuan kedatangan kami. Pak Lurah kemudian memanggil salah seorang perangkatnya, sekaligus orang yang melapor kehilangan sepeda. Sesaat perangkat desa itu datang bersama seorang tua usia setengah baya. Aku masih ingat, orang itulah yang kehilangan sepeda waktu di rumah bersalin. Melihat sepedanya ada di halaman rumah Pak Lurah, orang tua itu setengah berlari ingin mendekati sepedanya.
"Alhamdulillah sepeda itu telah ketemu," orang tua itu memegang setang sepeda dengan gembira. Aku menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Pak saya minta maaf telah membawa sepeda bapak. Saya tidak berniat mencuri, Pak," kata kakak iparku.
"Ndak apa-apa Mas, saya malah berterima kasih sepeda ini sudah ketemu karena saya terus terang tidak punya uang kalau harus menggantinya. Itu sepeda tetangga saya kok, Mas. Saya pinjam untuk mengantar makanan ke rumah bersalin. Lega hatiku rasanya, masalah telah selesai dengan damai.

Mau Baca Yang Lain?



0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar Anda

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design