Selamat menikmati informasi dari INFO PLUS

Jumat, 31 Oktober 2008

Hampir Saja Uangku Melayang (Bag. 3)

“Nanti kalau sudah, tolong uangnya dimasukkan dalam tas plastik warna hitam, ya!” pinta Pak Gatot lewat HP.

Aku meneruskan mengambil uangku hingga 8 juta rupiah. Seingatku, saldo di rekeningku tinggal sekitar 10 ribuan. Dalam benakku berkata, nanti kalau tidak Pak Gatot sendiri yang menerima, uang ini tidak akan saya berikan. Rupa-rupanya ini kekuatan yang cukup luar biasa pada kisah selanjutnya. Mau tahu kisah selanjutnya . . .

Dengan membawa uang 8 juta rupiah, aku keluar dari mesin ATM. Aku berpikir mencari tas plastik warna hitam untuk wadah uang tersebut, sesuai permintaan Pak Gatot. Kebetulan di dekat tempat itu ada pedagang kaki lima yang menjual berbagai keperluan, seperti rokok, minuman, dan makanan kecil. Aku membeli sebotol minuman “MIZONE” sambil meminta tas plastik hitam pada penjualnya.
“Mbak, punya tas plasti hitam?” tanyaku kepada si penjual.
“Ndak punya itu Mas. Untuk apa to Mas? Kantong plastik bekas mau?” Si penjual mencoba menanyakan kegunaan tas plastik itu kepadaku.
“Ya dah Mbak, ndak apa-apa”, jawabku sambil membuka segel tutup MIZONE. Kuteguk MIZONE untuk menghilangkan dahagaku.

Ketika henda beranjak dari si penjual itu, HP-ku berdering.
“Sekarang kamu di mana, Pak?” tanya Pak Gatot melalui HP.
“Aku di depan Bank BNI di jalan Slamet Riyadi”, jawabku singkat.
“Tepatnya di mana? Atau dekat mana?” tanya Pak Gatot lagi.
“Saya tidak tahu?” jawabku.
“Coba tanya tukang becak atau siapa, tepatnya kamu di daerah mana?” pinta pak Gatot. Aku memang tidak mengenal daerah Solo, walaupun aku orang Klaten. Aku mencoba mengamati sekeliling, barang kali ada papan nama yang mudah untuk dikenali. Setelah tidak berhasil mengidentifikasi lingkungan di sekelilingku, aku putuskan untuk bertanya kepada si PKL yang tadi. Ia pun menjawab nama suatu daerah, tetapi sekarang aku lupa nama daerah itu. Nama daerah itu aku informasikan ke Pak Gatot dan ia memintaku untuk menunggu di tempat itu.

Uang yang terbungkus rapi dalam tas plastik warna hitam itu aku masukkan ke dalam saku celanaku. Lantas aku menghampiri motorku yang kepanasan. Sejenak aku menunggu kedatangan Pak Gatot di motorku, sambil sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri. Dalam benakku membayangkan, nanti Pak Gatot naik mobil bersama polisi dan keluarga korban. Oleh karena itu, beberapa mobil yang lalu lalang di depan Bank BNI aku perhatikan, siapa tahu salah satunya mobil yang membawa Pak Gatot. Kira-kira 20 menit aku menunggu kedatangan Pak Gatot, tiba-tiba HP ku berdering.

“Pak Aku sudah ada di belakangmu. Kamu yang mengendari Yupiter merah, helm biru, pakai jaket, dan membawa minuman MIZONE ‘kan? Uangnya sudah dimasukkan tas plastik hitam kan?” tanya Pak Gatot sambil memerinci identitasku.
“Iya, benar. Uangnya sudah saya masukkan tas plastik hitam”, aku menjawab sambil menoleh ke belakang, tetapi aku tidak melihat seorang pun di belakangku.
“Sekarang pergilah ke arah timur, di sana ada papan bertuliskan DHL. Nah, di dekatnya ada tong sampah plastik warna orange, masukkan uang itu ke dalam tong sampah itu”, instruksi pak Gatot.
“Ndak mau di sini saja. Nanti kalau yang nerima bukan Pak Gatot uang tidak saya berikan” aku menolak permintaan Pak Gatot.
“Ini permintaan pak polisi bukan saya. Kalau ndak percaya, ni pak polisinya mau bicara”.
“Hallo, selamat sore Pak, tolong turuti saja apa kemauan dia”, kata Pak Polisi itu melalui HP pak Gatot.
“Baik Pak”, jawabku singkat. Perlahan-lahan aku mengendarai sepeda motorku ke arah timur. Aku bermaksud mematikan HP-ku.
“Pak HP-nya jangan dimatikan. Tempelkan saja di telinga”, pinta Pak Gatot melalui HP.
“Wah . . ndak bisa saya pakai helm cakil (full face), ndak mungkin ditempel ke telinga”. Akhirnya HP aku masukkan ke saku, aku terus mengendarai motor ke timur. Sampai di tempat yang dimaksud, HP-ku berbunyi lagi.
“Dah, Pak, berhenti di situ. Masukkan segera uangnya ke tempat sampah . . .” Pembicaraan itu tiba-tiba terputus. Rupanya bateriku drop. Memang sejak sampai di ATM BCA itu bateraiku sempat berkedap-kedip pertanda energi baterai melemah.

Sesaat aku berhenti di dekat tong sampah. Tanganku sudah memegang uang itu (terbungkus tas plastic hitam) dan hampir saja melemparkan uang itu. Aku menoleh ke belakang, ternyata tidak ada orang. Sekejap aku hanya melihat seorang pemulung sedang mengais-ngais sampah di bak sampah. Aku berpikir: nanti kalau uang ini saya tinggal di tong sampah, trus diambil pemulung gimana. Sedangkan Pak Gatot juga tidak kelihatan. Pikiranku jadi kacau antara melemparkan uang ke tong sampah atau meninggalkan tempat itu. Keputusan pun aku ambil: aku harus segera meninggalkan tempat itu. Dalam benakku aku berkata: Dah Pak Gatot karena kamu ndak muncul, terserah itu urusanmu!

Kugeber sepeda motorku cepat-cepat. Sengaja aku pacu sepeda motorku sekencang-kencangnya. Aku masih terngiang perkataan Pak Gatot bahwa plat nomor sepeda motorku telah dicatat polisi. Aku berusaha menghindari kejaran, bila dikejar. Karena perasaanku mengatakan mereka pasti mengejarku. Dalam perjalanan pulang ke Klaten aku masih berprasangka baik. Aku membayangkan apa kata Pak Gatot seandainya besok pagi bertemu di kantor. Tentu ia akan bilang: Wah kamu ini keterlaluan, tinggal naruh uang saja tidak mau, malah pergi. Aku juga membayangkan Pak Gatot pasti dipenjara karena gagal menyerahku uang.

Selama perjalanan pikiranku berkecamuk, apa sebenarnya yang baru saja terjadi. Aku merasakan beberapa kejanggalan. Pertama, mengapa polisi mencatat plat nomorku, padahal aku berniat membantu temanku. Kedua, mengapa Pak Gatot tidak muncul bersama polisi dan keluarga korban malah mengawasiku dari belakang. Ketiga, mengapa uang yang telah kubungkus dengan tas plastik hitam harus aku masukkan ke dalam tong sampah. Aku mulai berpikiran buruk.. ah jangan-jangan aku ditipu. Tetapi aku tidak yakin, karena aku yakin betul bahwa yang menelepon aku adalah Pak Gatot teman sekantorku. Satu-satu kunci yang bisa mengungkap teka-teki ini, aku harus kembali ke kantor dan menyakinkan apakah suara itu Pak Gator atau bukan.

Kira-kira pukul 17.30 WIB aku sampai di kantor. Kebetulan ada beberapa teman yang masih lembur. Aku bertemu dengan teman disain, Pak Yardi namanya. Dengan terengah-engah aku menghampirinya.
“Pak Yardi, lihat Pak Gatot ndak?” tanyaku singkat.
“Tadi pagi ada Pak. Tapi siang tadi keluar. Ada apa mencari Pak Gatot?” Pak Yardi balik bertanya. Pertanyaan itu tidak aku jawab. Aku melanjutkan pencarianku. Di lantai 2 aku bertemu dengan Pak Sidiq. Aku pun menanyakan hal yang sama.
“Kayaknya Pak Gatot masih di ruangan, Pak. Coba saja ke ruangnya.” Mendengar jawaban itu aku bergegas menuju ruangan Pak Gatot. Dan, benar ternyata Pak Gatot masih ada di ruang kerjanya, ia sedang berada di depan computer. Aku segera menemui Pak Gatot.
“Ada apa pak Sri, kok wajahmu pucat kayak mayit?” tanya Pak Gatot penarasan dengan kedatanganku yang tergesa-gesa.
“Wah Pak Gatot untung kamu masih di kantor, kalau tidak ada aku pasti mencari ke rumah Bapak”, kataku.
“Lho memangnya ada apa?” tanya Pak Gatot penasaran. Kemudian aku ceritakan kejadian yang baru saja aku alami. Aku juga menunjukkan uang yang tersimpan di tas plastik hitam dan resi pengambilan uang di ATM. Uang itu masih utuh 8 juta rupiah.
“Wah untung saja ngak jadi kena tipu. Kurang ajar itu penipu menggunakan namaku” kata Pak Gatot geram. Aku baru yakin bahwa aku baru saja ditipu oleh orang yang mengaku Pak Gatot. Uang yang aku kumpulkan dengan susah payah masih berada di tanganku. Aku ucapkan alhamdulillah atas lindungan Allah kepadaku.

Semoga kisahku ini dapat diambil hikmah bagi siapa saja yang membaca. Khsusnya bagi diriku sendiri agar lebih berhati-hati, tidak mudah percaya begitu saja kabar yang diterima melalui telepon. Sekedar Anda ketahui, selama perjalananku dari Klaten menuju Solo (Jln Slamet Riyadi), HP-ku mencatat sebanyak 31 kali panggilan tak terjawab dari Pak Gatot si penipu itu. Apa ndak gila!!

info lowongan kerja

Mau Baca Yang Lain?



0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar Anda

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design