Selamat menikmati informasi dari INFO PLUS

Jumat, 24 Oktober 2008

Hampir Saja Uangku Melayang (Bag. 2)

Sekitar pukul 15.00 WIB aku sampai di Jalan Slamet Riyadi Solo. Tiba-tiba HP-ku berdering.
“Sampai di mana Pak?” Tanya Pak Gatot melalui HP.
“Aku sudah tiba di Jalan Slamet Riyadi. Sekarang aku sedang menuju ATM”.
Motorku jalan pelan-pelan di jalur lambat. Aku menoleh ke kiri, mencari ATM. Sebentar kemudian sepeda motorku menghampiri ATM BCA. Terlihat beberapa orang sedang mengantri di depan ATM itu. Setelah beberapa saat mengantri, giliranku memasuki ATM. Ketika sedang memasukkan kartu ATM, HP-ku berdering. Dering HP-ku tidak aku hiraukan karena aku sedang tergesa-gesa mengambil uang dan beberapa orang telah mengantri di luar pintu ATM. HP-ku berdering berkali-kali. Saat itu aku gagal menarik uang. Tiba-tiba dua orang petugas dari BCA dan seorang Satpam masuk ke ruang ATM.
“Kenapa Mas, bermasalah dengan mesin ATM-nya?” tanya salah seorang petugas.
“Iya, Pak. Kok uangnya ndak mau keluar, ya”, jawabku.
“Coba masukkan sekali lagi kartu ATM-nya”, salah petugas itu lagi. Aku pun menuruti saran bapak itu. Uang pun tidak bisa keluar juga.
“Mungkin uangnya habis, Mas. Coba aku periksa”, kata petugas itu. Dibantu oleh seorang satpam petugas BCA itu membuka brangkas ATM. Selanjutnya mengisi ATM dengan uang yang sangat banyak, entah berapa jumlahnya. Belum selesai petugas itu memasukkan uang, HP-ku berdering.


“Kenapa tadi saya telepon kon nggak diangkat. Gimana sudah dapat uangnya. Cepet lho aku sudah didesak polisi dan keluarga korban”, kata Pak Gatot melalui HP.
“Belum Pak. ATM-nya troubble . . .” jawabku belum selesai.
“Lho gimana tho, mbok cari ATM lainnya kan ada”, nada suara Pak Gatot cukup tinggi. Mendengar perkataan itu, aku tersinggung dan emosi. Dalam benakku berkata: lho kok saya malah dimarahi, wong saya mau Bantu kok. Tetapi perasaanku itu aku redam. Ah, barangkali karena Pak Gatot ditekan oleh polisi dan keluarga korban, kataku dalam hati.
Aku pun keluar dari mesin ATM. Sepeda motorku ternyata ditunggu sama tukang parker. Aku merogah saku celanaku. Wah, ndak ada uang receh. Aku buka dompetku,a adanya uang 5 ribuan. Wah, gimana ya? Ya, udah biar dikasih kembalian. Sambil mengambil motorku, uang 5 ribuan itu aku serahkan untuk membayar upah parker.
“Maaf Mas, ndak ada uang kecil”, kataku pada tukang parker.
“Udah Mas, ndak apa-apa, dibawa aja”, pinta si tukang parker.
“Maaf lho Mas. Saya nanti ke sini lagi”, jawabku. Aku berniat memberi uang parkir setelah urusanku dengan Pak Gatot selesai.
Kembali aku menyusuri jalur lambat mencari mesin ATM. Sekitar 5 menit aku berhenti di depan Bank BNI. Bergegas aku menuju ATM. Untung mesin ATM-nya tidak Cuma satu jadi aku tidak usah ngantri seperti di ATM BCA. Sejuta demi sejuta aku berhasil menarik uang dari mesin ATM, rencanaku mengambil 5 juta. Aku baru berhasil menarik 4 juta, HP-ku berdering.
“Gimana sudah dapat uangnya”, Tanya Pak Gatot melalui HP.
“Sudah, tapi baru 4 juta,” jawabku singkat.
“Kamu dengan siapa Pak”, tanya pak Gatot.
“Aku sendiri . . .”, jawabku belum selesai.
“Kok ada suara orang di situ”, Tanya pak Gatot penasaran.
“O itu. Itu suara dua orang di ATM sebelahku. Mesin ATM-nya ada banyak, Pak”, aku mencoba menjelaskan asal suara itu.
“Pak kamu pakai baju apa?” Tanya pak Gatot.
“Aku pakai baju seragam dan jaket hitam”, kataku lagi.
“Masih ada berapa di tabunganmu”, Tanya Pak Gatot.
“Ada 8 juta, masih sisa 4 juta,” jawabku.
“Tolong diambil semua saja, saya butuhnya banyak,” pinta Pak Gatot.

Wah . . ternyata sudah terlalu panjang ya. . . Maaf terpaksa kita sambung lagi di Hampir Saja Uangku Melayang (Bag. 3) yang merupakan klimaks dari kisahku ini.

Mau Baca Yang Lain?



0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar Anda

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design