Selamat menikmati informasi dari INFO PLUS

Senin, 20 Oktober 2008

Hampir Saja Uangku Melayang (Bag. 1)

Kejadianku ini sebenarnya sudah cukup lama, kira-kira 2 tahun yang lalu. Tetapi, mungkin saja bisa diambil pelajaran bagi kita semua.
Awalnya aku mengunjungi ruangan kantor temenku. Temenku itu satu kantor tetapi beda ruang atau bagian. Saat itu temenku baru terima telepon. Kayaknya pembicaraan temenku cukup asyik sehingga aku tidak berani menyela. Saat aku menunggu pembicaraan temenku dengan temennya via telepon, tiba-tiba telepon di meja temenku itu berdiring. Oh ya pesawat teleponnya ada dua. Oleh karena temenku masih on-line aku coba mengangkat ganggang telepon itu, siapa tahu ada hal penting : pikirku.
Percakapan melalui telepon pun berlangsung.
“Sibuk pak?” si penelopon mengawali pembicaraan.
“ndak. Ini siapa ya?” jawabku sambil menanyakan identitas si penelepon.
“Ah, masak lupa sama suara saya?” si penelopon balik bertanya.
Mendapat pertanyaan itu, aku berpikir sambil mengingat-ingat suara itu suara siapa. Tidak lama kemudian aku menjawab. “ Pak Gatot ya?” aku mencoba menebak suara itu.
“Iya benar.” Jawab si penelepon.


Percakapan pun berlangsung dengan asyik. Seolah-olah sudah saling kenal, dan memang saya punya teman sekantor namanya Pak Gatot, suaranya persis yang di telepon itu. Singkat cerita “Pak Gatot” temenku itu sedang mengalami musibah. Dia menabrak seseorang di Solo. Orang yang ditabrak itu meninggal dunia. Keluarga korban bersedia damai jika Pak Gatot membayar ganti rugi atau uang duka sebanyak 20 juta rupiah. Pak Gatot pun menyanggupi, tetapi uangnya tidak cukup, lantas dia minta tolong kepadaku untuk meminjamkan uangnya. Aku hanya punya 8 juta rupiah. Karena kejadiannya di Solo, saya harus mengantarkan uang itu ke Solo. Akhirnya aku dan Pak Gatot mengadakan perjanjian untuk ketemu di Solo. Sebelum pembicaraan berakhir Pak Gatot minta nomor HP-ku, katanya HP dia disita polisi. Dia juga berpesan HP ku sementara jangan dipakai untuk menghubungi orang lain selain dia (pak Gatot).
Saat itu memang masih jam kerja , sekitar pukul 14.30 WIB, aku harus meminta izin atasanku jika akan meninggalkan kantor. Aku pun membuat izin palsu. Dalam izinku aku mengatakan akan menengok keponankan yang sedang melakukan operasi di rumah sakit di Solo.
Belum lama aku meninggalkan ruang kerjaku, HP ku berdering. Pak Gatot menghubungiku.
“Halo, sampai di mana?” Tanya pak Gatot dalam teleponnya.
“Aku sedang menuju parkiran”, jawabku.
“Ayo, cepatan dikit aku sudah didesak oleh polisi dan keluarga korban”, pinta pak Gatot.
“I ya saya segera ke Solo”, jawabku tergesa-gesa sambil mempercepat langkahku.
“Kira-kira jam berapa sampai Solo”, Tanya Pak Gatot lagi.
“Yah, kira-kira setengah jam lagi”, jawabku.

Sampai di tempat pakir, aku di sapa oleh salah seorang pegawai rumah tangga di kantorku.
“Kok, tergesa-gesa mau ke mana Pak?”
“Iya Pak, saya keburu ke rumah sakit”, jawabku .
Sepeda motor Yupiter warna merah kesayanganku mulai kustater. Aku pun melaju kencang ke Solo, tepatnya ke jalan Slamet Riyadi.

. . . Kisahku semakin seru . .. ikuti di bagian kedua ya!

Mau Baca Yang Lain?



0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar Anda

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design