Akhir-akhir ini banyak pihak yang merasa prihatin dengan rencana kenaikan harga BBM. Tidak saja mereka yang berpenghasilan tetap, apalagi mereka yang tidak mempunyai penghasilan tetap alias warga miskin. Bertolak dari rasa keprihatinan itu timbullah ide untuk mencari BBM alternatif, yang belakangan ini banyak bermunculan adalah mengolah sampah menjadi BBM. Di antara sekian banyak pembuat alat pengubah plastik menjadi BBM antara lain: dua siswi SMP di Kudus, seorang pemuda di Blitar, siswa SMK di Madiun, dan mungkin masih akan bertambah lagi para pembuat (maaf bukan penemu alat) pengubah sampah plastik menjadi BBM. Proses kreativitas mereka patut dihargai karena di samping mampu menemukan solusi penghematan BBM, juga dapat menguarangi pencemaran samph plastik di lingkungan.
Secara garis besar prinsip pengubahan plastik menjadi BBM sebagai berikut.
1. Sampah plastik dibersihkan.
2. Sampah plastik dibakar dalam tabung tertutup dengan suhu kira-kira 300 derajat celcius hingga meleleh.
3. Uap plastik dilewatkan pipa berpendingin sehingga menghasilkan tetesan minyak mentah.
4. Minyak mentah ditampung.
Dari minyak mentah ini paling sudah dapat digunakan untuk menyalakan kompor sumbu atau lampu tempel, atau lampu spiritus. Menurut siswa SMK di Madiun, sampah plastik dari gelas air mineral menghasilkan minyak mentah paling jernih. Adapun plastik kresek menghasilkan minyak mentah paling keruh. Masih dari sumber di SMK Madiun, minyak mentah itu diperkirakan mempunyai nilai oktan di bawah premium. Mereka telah menguji minyak mentah tersebut untuk menjalankan sepeda motor hasil rakitan sendiri. Hasilnya, mesin sepeda motor iru dapat hidup, tetapi masih tersendat-sendat.
Seorang pemuda di Blitar bahkan lebih maju selangkah di banding siswa SMK di Madiun. Ia telah dapat memisahkan minyak mentah hasil penyulingan plastik menjadi minyak tanah, solar, dan premium. Pemuda itu menggunakan drum-drum besar yang berisi katalis tertentu sehingga dapat memisahkan minyak mentah itu menjadi minyak tanah, solar, dan premium. Sementara itu, siswi SMP di Kudus masih sebatas penelitian di lab sekolah.
Bagaimana perkembangan pembuatan alat konversi plastik menjadi BBM di luar negeri? Ternyata mereka lebih dulu membuat dibanding anak negeri ini. Blest, nama sebuah perusahaan di Jepang telah memasarkan alat ini. Blest membuat alat konversi sampah yang bersifat portable (dapat dibawa kemana-mana) dan memasarkan produk tersebut dengan harga cukup mahal sekitar 100 juta rupiah.


10:34
Panji

